FAJAR, JAKARTA — Dalam sepak bola modern, sebuah tim sering kali dibangun di atas sistem permainan yang kolektif. Namun, ada kalanya satu pemain memiliki pengaruh begitu besar sehingga absennya langsung terasa seperti lubang dalam struktur tim. Di Super League musim 2025/2026, dua nama dari Brasil tampaknya menggambarkan fenomena itu: Allano Lima di Persija Jakarta dan Victor Luiz di PSM Makassar.
Keduanya bermain di posisi yang berbeda. Allano adalah winger kanan yang hidup dari kecepatan, duel satu lawan satu, dan kreativitas di sepertiga akhir lapangan. Sementara Victor Luiz adalah bek kiri modern yang tak hanya bertahan, tetapi juga menjadi motor serangan dari sisi sayap.
Namun mereka memiliki satu kesamaan: ketika keduanya tidak berada di lapangan, permainan tim masing-masing terasa pincang.
Bagi Persija Jakarta, Allano Lima adalah salah satu sumber energi di lini depan. Ia menjadi pemain yang kerap membuka ruang ketika serangan tim macet. Dengan dribel cepat dan keberanian menghadapi bek lawan, Allano sering menjadi pembeda dalam pertandingan-pertandingan yang berjalan ketat.
Namun musim ini, sorotan terhadapnya justru datang dari statistik yang tidak biasa: kartu kuning.
Berdasarkan data I.League hingga 5 Maret, Allano telah mengoleksi 12 kartu kuning, menjadikannya pemain dengan kartu kuning terbanyak di Super League musim ini. Catatan itu terasa kontras dengan perannya sebagai winger ofensif—posisi yang biasanya tidak identik dengan pelanggaran keras.
Menariknya, Persija sendiri bukan tim dengan jumlah kartu kuning terbanyak. Bhayangkara Presisi Lampung FC memimpin daftar dengan 77 kartu kuning, disusul PSM Makassar dengan 71 kartu kuning, sementara Persija berada di posisi berikutnya dengan 67 kartu kuning.
Namun di level individu, nama Allano tetap berada di puncak.
Di bawahnya ada striker Persijap Jepara Carlos Franca dan gelandang Dewa United Ricky Kambuaya yang masing-masing mengoleksi sembilan kartu kuning. Disusul bek Persis Solo Jose Cleylton de Morais dos Santos serta bek kiri PSIM Jogjakarta Reva Adi Utama, yang sama-sama mengoleksi delapan kartu kuning.
Musim ini menjadi potret yang terasa ganjil bagi Allano. Ia dikenal sebagai pemain ofensif yang hidup dari kreativitas dan kecepatan, bukan tipe pemain yang akrab dengan tekel keras atau pelanggaran berbahaya.
Sebagian kartu memang lahir dari emosi. Tetapi bagi Allano, cerita musim ini terasa lebih rumit dari sekadar persoalan disiplin.
“Saya bukan orang suci. Saya manusia biasa,” tulisnya di akun Instagram @allanolima07 pada 25 Februari lalu.
Pernyataan itu bukan sekadar pembelaan diri. Di dalamnya tersimpan kegelisahan yang lebih dalam. Pemain kelahiran Rio de Janeiro, 24 April 1995, itu merasa kejadian yang terus berulang telah membentuk semacam stereotipe terhadap dirinya di lapangan.
“Apa yang berulang kali terjadi sangat menakutkan bagi saya. Apa pun yang saya lakukan, saya dihukum dengan kartu kuning,” tulisnya.
Selama lebih dari satu dekade berkarier sebagai pesepak bola profesional, ia mengaku belum pernah mengalami situasi seperti ini. Di klub-klub sebelumnya, hukuman kartu tidak pernah datang sebanyak sekarang.
“Ini sangat membuat frustrasi. Saya bekerja keras untuk menikmati setiap pertandingan. Bahkan ketika saya dilanggar, justru saya yang mendapat kartu,” lanjutnya.
Kegelisahan itu kemudian menyentuh isu yang lebih sensitif. Allano merasa perlakuan yang ia terima di lapangan tidak selalu berdiri semata pada tindakan, tetapi juga pada identitas.
“Mungkin jika kulit saya berwarna putih, saya tidak akan diperlakukan seperti ini,” katanya.
Kalimat itu mengandung kepedihan. Ia merasa beban yang dipikul pemain berkulit hitam sering kali lebih berat.
“Bagi orang kulit hitam, segalanya lebih sulit, dan itu nyata,” ujarnya.
Namun di luar kontroversi tersebut, kontribusi Allano untuk Persija tetap tidak bisa diabaikan. Dalam 21 pertandingan, ia telah mencetak enam gol dan tujuh assist—angka yang menunjukkan betapa pentingnya perannya di lini depan Macan Kemayoran.
Pelatih Persija Mauricio Souza juga tidak menutup mata terhadap situasi itu. Ia mengakui bahwa tim pelatih sudah beberapa kali berbicara dengan Allano agar lebih mampu mengendalikan emosinya di lapangan.
“Kami sudah berbicara dengannya agar bisa mengontrol diri. Dia punya energi luar biasa dan selalu ingin memberikan yang terbaik,” kata Mauricio.
Namun emosi itu kembali muncul dalam laga melawan Borneo FC di Jakarta International Stadium pada Selasa malam, 3 Maret. Dalam pertandingan tersebut, Allano kembali menerima kartu kuning.
Akibatnya, ia dipastikan absen saat Persija menjamu Dewa United pada 15 Maret mendatang.
Bagi Persija, absennya Allano bukan sekadar kehilangan satu pemain. Itu berarti kehilangan salah satu sumber kreativitas di sisi kanan serangan.
Situasi yang hampir serupa juga dialami PSM Makassar di sisi kiri pertahanan mereka. Ketika Victor Luiz harus menjalani hukuman larangan bermain, keseimbangan permainan Juku Eja langsung terganggu.
Tanpa bek kiri asal Brasil tersebut, PSM kehilangan pemain yang biasanya menjadi penghubung antara pertahanan dan serangan di sisi sayap. Dalam beberapa laga terakhir saat ia absen, performa tim pun ikut menurun.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal yang menarik di Super League musim ini: pengaruh pemain-pemain Brasil masih sangat besar dalam menentukan wajah permainan klub-klub Indonesia.
Dan ketika dua di antaranya—Allano Lima di Persija dan Victor Luiz di PSM—tidak berada di lapangan, dampaknya terasa langsung. Bukan hanya pada statistik pertandingan, tetapi juga pada ritme permainan tim.
Karena dalam sepak bola, terkadang satu pemain memang tidak bisa menggantikan keseluruhan sistem. Tetapi ada kalanya satu pemain menjadi bagian yang membuat sistem itu tetap hidup.





