Penulis: Jasrul
TVRINews, Bengkalis
Pemerintah Kabupaten Bengkalis memastikan tradisi Budaya Lampu Colok tetap berlangsung pada tahun 2026. Festival tahunan ini dijadwalkan berlangsung pada malam 27 Ramadan atau yang dikenal masyarakat sebagai malam 7 Likur.
Budaya Lampu Colok merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini menjadi bentuk syiar Islam sekaligus menyemarakkan suasana menjelang akhir Ramadan.
Setiap tahun, masyarakat dari berbagai desa dan kelurahan menampilkan kreativitas melalui pembangunan berbagai bentuk dan ornamen menara lampu colok. Kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Bengkalis dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparbudpora) Bengkalis, Edi Sakura, menjelaskan bahwa meski tahun ini anggaran pemerintah terbatas akibat kebijakan efisiensi, festival tetap dilaksanakan.
“Jika tahun lalu Disparbudpora menganggarkan dana pembinaan yang cukup besar bagi para pemenang lomba, seperti juara pertama Rp15 juta, juara kedua Rp13 juta, dan juara ketiga Rp9 juta, tahun ini nominal hadiah kemungkinan mengalami penyesuaian karena kondisi efisiensi anggaran,” jelas Edi Sakura, dikutip Jumat, 6 Maret 2026.
Pendaftaran peserta Festival Lampu Colok dibuka mulai 6 hingga 14 Maret 2026. Pendaftaran bisa dilakukan langsung di Kantor Disparbudpora di Jalan Arif Rahman, Bengkalis, melalui Bidang Kebudayaan. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui staf Bidang Kebudayaan, Desi, di nomor 08126670238.
Selain dukungan pemerintah daerah, Disparbudpora juga berupaya menggandeng perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk mendukung pelestarian budaya.
Bupati Bengkalis, Kasmarni, dijadwalkan akan mengunjungi menara-menara lampu colok yang dibangun masyarakat di Pulau Bengkalis sebagai bentuk apresiasi, khususnya kepada para pemuda yang mempersiapkan hingga mendirikan menara lampu colok.
Festival Lampu Colok 2026 rencananya dibuka langsung oleh Bupati Kasmarni. Lokasi pembukaan masih dibahas, biasanya dilakukan di desa juara pertama tahun sebelumnya, yaitu Desa Pangkalan Batang Barat. Namun desa lain juga bisa menjadi tuan rumah secara simbolis. Jalur pusat festival berada di Desa Pangkalan Batang, Pangkalan Batang Barat, hingga Desa Simpang Ayam di Pulau Bengkalis.
“Kepastian lokasi pembukaan akan segera diinformasikan setelah ada keputusan final,” tutup Edi Sakura.
Editor: Redaktur TVRINews





