Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan vaksin campak measles rubella (MR) yang digunakan dalam program imunisasi nasional aman dan telah melalui proses evaluasi ketat sebelum digunakan masyarakat.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia mengatakan, vaksin tersebut telah mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) setelah melalui penilaian terkait keamanan dan khasiatnya.
“Vaksin yang akan kita gunakan telah mendapatkan izin edar dari Badan POM, di mana telah dinyatakan bahwa khasiat dan keamanannya sudah terjamin,” katanya dalam konferensi pers, Jumat (6/3).
Lucia menjelaskan, pemilihan vaksin untuk program imunisasi nasional juga dilakukan melalui kajian oleh Kementerian Kesehatan bersama Komite Imunisasi Nasional.
Selain itu, vaksin ini telah melalui uji klinis yang menunjukkan tingkat efektivitas yang baik dalam membentuk perlindungan terhadap penyakit campak dan rubella pada anak.
“Berdasarkan data uji klinis vaksin MR yang digunakan dalam pelaksanaan program imunisasi nasional ini menunjukkan efficacy yang baik,” ujarnya.
“Dari hasil kajian yang telah dilakukan, tingkat seropositif meningkat dari 10,41 persen menjadi 80,21 persen untuk measles, dan dari 15,1 persen meningkat menjadi 98,96 persen untuk rubella,” sambung Lucia.
Menurut dia, data tersebut menunjukkan bahwa vaksin MR efektif meningkatkan antibodi pada anak yang telah menerima imunisasi.
Ia juga menegaskan vaksin tersebut telah memenuhi standar prakualifikasi World Health Organization (WHO) sehingga dapat digunakan secara luas dalam program imunisasi.
“WHO telah memastikan bahwa vaksin ini memiliki efficacy dan safety yang baik untuk digunakan pada jutaan anak di seluruh dunia,” kata Lucia.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi keliru terkait vaksin, termasuk klaim bahwa vaksin mengandung mikrocip atau senjata pemusnah massal.
Menurut Lucia, informasi tersebut merupakan hoaks karena vaksin hanya berisi komponen biologis atau sintetis yang dirancang untuk merangsang sistem imun agar mampu melawan penyakit.
“Informasi bahwa vaksin mengandung mikrocip atau senjata pemusnah massal adalah hoaks dan tidak dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk memperoleh informasi kesehatan dari sumber resmi, termasuk situs web dan media sosial Kemenkes, serta memastikan anak-anak mengikuti program imunisasi.





