Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan selain menambah nilai ekonomi, emas kini dapat menjadi instrumen yang membantu memitigasi risiko di masa depan.
Oleh karena itu, pemerintah dikabarkan akan terus mendorong kemudahan usaha di sektor bullion serta meninjau sejumlah kebijakan perpajakan, seperti pemberian insentif pajak agar nilai emas tetap terjaga sekaligus aman dari sisi fisik.
“Beberapa yang mungkin perlu kita lihat lagi terkait dengan kebijakan perpajakannya. Jadi kita lihat apa insentif lain perlu dorong agar emas ini bisa dijaga secara value, namun juga aman dari segi fisik,” kata Airlangga dalam sambutannya di acara Launching Indonesia’s Bullion Ecosystem Roadmap di Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Jumat (6/3).
Ia menambahkan, saat ini pemerintah juga mendorong agar perdagangan emas lebih banyak dilakukan di dalam negeri, termasuk dalam interaksi dengan pihak luar. “Itu untuk mendukung ketersediaan bahan baku bagi industri perhiasan ke depan,” lanjut Airlangga.
Katanya, pemerintah juga bertanya kepada para pelaku industri terlebih dahulu apakah masih diperlukan insentif tambahan atau tidak. "Ke depan nanti tanya ke para player-nya masih butuh insentif tambahan atau sudah (tidak butuh),” tutur Airlangga.
Selain itu, penguatan ekosistem emas nasional juga didukung pemerintah dengan pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) yang berperan sebagai wadah koordinasi industri emas sekaligus mitra strategis pemerintah.
“Kemudian kami juga terus dorong sinergi ekonomi bullion dengan sektor keuangan syariah yang tentunya semakin perlu untuk diperbuat dan tadi inklusivitas dari BSI melalui produk emas ini juga lebih dasarnya menarik,” ucap Airlangga.
Sebelumnya, Airlangga juga mengungkapkan jumlah nasabah Bank Bullion melonjak tajam dari 3,2 juta pada Februari 2025 menjadi 5,7 juta saat ini. Lonjakan ini mencerminkan tren masyarakat yang semakin memilih emas sebagai instrumen safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Bank Bullion yang diluncurkan Februari tahun lalu, jumlah nasabahnya 3,2 juta, sekarang sudah mencapai 5,7 juta,” kata Airlangga dalam acara Aksi Klik Kuatkan Literasi dan Inklusi Keuangan untuk Kesejahteraan, Jumat (6/3).
Selain pertumbuhan nasabah, nilai emas yang digadaikan di Pegadaian juga meningkat drastis, dari 94 ton menjadi 144,7 ton. Airlangga menambahkan, mereka yang memanfaatkan pinjaman melalui emas naik sebesar 38,5 ton atau senilai Rp 102 triliun. Di sisi lain, pemanfaatan emas melalui Bank Syariah Indonesia (BSI) kini mencapai 22 ton.





