Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Aceh
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) yang juga Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera Tito Karnavian menargetkan seluruh pengungsi korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak lagi tinggal di tenda sebelum Idulfitri 2026.
Target tersebut disampaikan Tito saat meninjau hunian sementara (huntara) di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Jumat, 6 Maret 2026.
Pemerintah, kata dia, terus mempercepat pembangunan huntara sekaligus menyalurkan berbagai bantuan sosial, termasuk dana tunggu hunian (DTH), agar para penyintas segera memperoleh tempat tinggal yang lebih layak.
“Apapun kita berusaha kemarin rapat supaya sebelum Lebaran target kita tidak ada lagi pengungsi di tenda,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan, jumlah pengungsi yang masih bertahan di tenda saat ini terus menurun secara signifikan. Berdasarkan data terbaru, jumlahnya kini berkisar sekitar 6.000 orang, turun dari sekitar 11.000 orang pada pekan sebelumnya.
“Dari minggu lalu 11.000-an, sekarang sudah 6.000-an. Target kita sebelum Idulfitri mereka sudah masuk ke huntara atau menggunakan dana tunggu hunian,” kata Tito.
Menurut Tito, pengungsi yang masih tinggal di tenda saat ini sebagian besar berada di wilayah Aceh dan Sumatera Utara, terutama di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Sementara itu, di Provinsi Sumatera Barat seluruh pengungsi sudah tidak lagi berada di tenda.
“Yang masih ada di tenda itu ada di Aceh dan Sumut. Terutama di Tapteng dan Tapsel. Sementara di Aceh ada di beberapa daerah dan di Sumbar nol. Semua tidak ada lagi yang ada di tenda, semuanya sudah di huntara atau dana tunggu hunian,” ucap Tito.
Selain percepatan pembangunan huntara, pemerintah juga menyiapkan dukungan logistik bagi para penyintas selama masa transisi. Tito menyebut kebutuhan makanan pengungsi dalam waktu dekat masih akan ditanggung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Untuk masalah makanannya nanti 10 hari ke depan ditanggung oleh BNPB. Setelah itu akan menggunakan uang lauk pauk atau jadup dari Kementerian Sosial,” tutur Tito.
Dalam kesempatan tersebut, Tito juga meninjau sejumlah model hunian sementara yang dibangun oleh berbagai pihak.
Huntara tersebut dibangun oleh BNPB, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Kementerian Pekerjaan Umum, serta hasil gotong royong masyarakat dan organisasi relawan.
Ia menjelaskan setiap huntara memiliki karakteristik fasilitas yang berbeda.
“Di BNPB misalnya tidak ada ranjang, tapi kelebihannya dapur dan toiletnya sendiri. Sementara yang dibangun oleh Danantara dan Kementerian PU ada ranjang dan kipas angin, tetapi dapur dan kamar mandinya komunal,” ujar Tito.
Kunjungan tersebut juga dihadiri Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta Direktur Jenderal Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Safrizal ZA.
Pemerintah berharap percepatan pembangunan hunian dan penyaluran bantuan dapat memastikan para penyintas segera mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman dan layak sebelum Idulfitri.
Editor: Redaktur TVRINews





