Hari Pertama Penawaran, Sukuk Ritel SR024 Terserap Rp431 Miliar

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Perdana ditawarkan pada Jumat (6/3/2026), penjualan Sukuk Ritel seri SR024 mencatat penyerapan total sekitar Rp431 miliar pada hari pertama penawaran.

Berdasarkan data yang dihimpun dari aplikasi Bibit hingga pukul 16.30 WIB, penyerapan tersebut berasal dari dua seri yang ditawarkan pemerintah. Sukuk Ritel SR024-T3 dengan tenor 3 tahun tercatat menyerap sekitar Rp237 miliar atau 2,37% dari target indikatif pemerintah sebesar Rp10 triliun.

Sementara itu, seri SR024-T5 dengan tenor 5 tahun membukukan penjualan sekitar Rp194 miliar atau 3,9% dari target Rp5 triliun.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan sebelumnya mengumumkan bahwa SR024 ditawarkan dalam dua pilihan tenor dengan imbal hasil tetap (fixed coupon). Seri SR024-T3 menawarkan kupon 5,55% per tahun, sedangkan SR024-T5 memberikan imbal hasil 5,90% per tahun.

Penawaran sukuk ritel ini berlangsung secara daring melalui 32 mitra distribusi yang telah ditunjuk pemerintah pada periode 6 Maret 2026 pukul 09.00 WIB hingga 15 April 2026 pukul 12.00 WIB.

Sejumlah mitra distribusi yang memasarkan instrumen ini antara lain PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), bank-bank Himbara, PT Bank Permata Tbk. (BNLI), BNI Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, PT Bareksa Portal Investasi, serta PT Bibit Tumbuh Bersama.

Baca Juga

  • Penawaran Sukuk Ritel SR024 Dimulai Besok (6/3), Tawarkan Kupon 5,55% & 5,90%
  • Sukuk Ritel SR024 Segera Terbit, Mampu Diserap Pasar?
  • Menakar Peluang Serapan Pasar terhadap Sukuk Ritel SR024

Pemerintah menetapkan batas maksimum pemesanan bagi setiap investor sebesar Rp5 miliar untuk SR024-T3 dan Rp10 miliar untuk SR024-T5. Adapun minimum pembelian ditetapkan Rp1 juta dan berlaku kelipatan.

SR024 menawarkan kupon tetap yang dibayarkan setiap bulan. Pembayaran imbal hasil perdana dijadwalkan pada 10 Mei 2026, dan selanjutnya dibayarkan setiap tanggal 10 setiap bulan.

Instrumen ini memiliki underlying asset berupa proyek atau kegiatan Kementerian/Lembaga dalam APBN 2026. Sukuk ritel tersebut juga memiliki minimum holding period satu kali pembayaran kupon, setelah itu investor dapat memperdagangkannya di pasar sekunder.

Penerbitan SR024 menjadi salah satu upaya pemerintah menyediakan instrumen investasi yang relatif aman bagi investor ritel sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam pembiayaan APBN.

Secara historis, instrumen Sukuk Ritel tergolong cukup diminati pasar. Pada penerbitan SR022 pada 2025, misalnya, DJPPR mencatat penjualan mencapai Rp27,84 triliun atau 132,57% dari target Rp21 triliun.

Kala itu, SR022 menawarkan imbal hasil 6,45% dan 6,55%, yang lebih rendah dibandingkan kupon ORI027 sebagai SBN ritel perdana 2026 yang berada pada kisaran 6,65%—6,75%.

Namun, kinerja berbeda terjadi pada penerbitan SR023 yang hanya mencatat penjualan sekitar Rp18,73 triliun atau 93,65% dari target. Saat itu, Bank Indonesia tengah memangkas suku bunga acuan sehingga imbal hasil SR023 berada di level 5,80% dan 5,95%, lebih rendah dibandingkan SBR014 yang sebelumnya menawarkan kupon 6,25% dan 6,35%.

Dalam periode antara penerbitan SBR014 dan SR023, Bank Indonesia memangkas suku bunga hingga 50 basis poin. Kondisi tersebut membuat sebagian investor masih mengharapkan imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga SR023 menjadi seri SBN ritel dengan penjualan paling kecil sepanjang 2025.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Edukasi Literasi Hukum, Rudianto Lallo Serahkan Buku KUHP-KUHAP ke Pemuda Pancasila Sulsel
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Get The Look: Ide Outfit Bukber Bernuansa Earth Tone yang Simpel ala Vebby Palwinta
• 20 jam lalubeautynesia.id
thumb
Kemenkes Beri Peringatan Influencer yang Keluyuran saat Sakit Campak
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Iran Tunda Pemilihan Pemimpin Tertinggi karena Risiko Keamanan
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
RI Batasi Anak Pakai Medsos, Legislator: Bukti Negara Tak Tinggal Diam
• 1 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.