Penulis: Fityan
TVRINews – New Delhi
Kepemimpinan New Delhi di BRICS dinilai memicu keretakan internal saat Washington dan Israel menyerang Teheran.
Aliansi BRICS, yang selama ini dikenal sebagai penantang dominasi Barat, kini menghadapi ujian solidaritas yang krusial.
Di bawah kepemimpinan India, blok yang beranggotakan 11 negara ini menunjukkan sikap yang jauh lebih berhati-hati dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, memicu pertanyaan besar: Apakah kepentingan nasional India kini melampaui tujuan kolektif aliansi tersebut?
Hampir sepekan sejak operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai, BRICS belum mengeluarkan pernyataan resmi sebagai satu kesatuan.
Sikap diam ini dianggap aneh oleh banyak pengamat politik, mengingat Iran adalah anggota resmi blok tersebut sejak 2024.
Pergeseran Sikap di Bawah Kendali India
Kontras terlihat jelas jika dibandingkan dengan konflik serupa tahun lalu. Saat Brasil memegang kursi ketua, blok ini dengan cepat melabeli serangan terhadap Iran sebagai "pelanggaran hukum internasional".
Namun, sejak India mengambil alih kepemimpinan pada Desember 2025, arah diplomasi BRICS tampak bergeser
"India berupaya menjaga keseimbangan yang sangat rumit antara perannya di Global South dan kemitraan strategisnya yang semakin dalam dengan Washington serta Tel Aviv," ujar seorang analis geopolitik kepada Al Jazeera.
Suara Berbeda dari Pretoria, Moskow, dan Beijing
Meski secara organisasional BRICS membisu, para anggotanya secara individu mulai bersuara keras. Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, secara tegas menuntut gencatan senjata.
"Kami ingin kegilaan ini segera berakhir," tegas Ramaphosa kepada wartawan pada hari Rabu. Ia juga memperingatkan bahwa pertempuran ini berisiko meluas ke luar Timur Tengah.
Rusia dan Tiongkok juga melontarkan kritik tajam. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menyatakan tidak ada bukti Teheran mengembangkan senjata nuklir, alasan utama yang digunakan AS dan Israel untuk menyerang.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, menyatakan penolakan keras terhadap segala bentuk serangan militer terhadap kedaulatan Iran.
Posisi India: Diplomasi atau Persetujuan Diam-diam?
Berbeda dengan sekutunya di BRICS, New Delhi hanya mengeluarkan pernyataan melalui Kementerian Luar Negeri yang menyerukan "pengakhiran konflik lebih awal" tanpa mengecam serangan tersebut secara langsung.
Kritik tajam datang dari dalam negeri India. Partai Kongres, oposisi utama pemerintah, menuding kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Israel sesaat sebelum serangan dimulai sebagai bentuk "persetujuan diam-diam".
"India sangat menekankan dialog dan diplomasi. Kami menyuarakan diakhirinya konflik demi stabilitas kawasan," bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri India, yang lebih menyoroti keselamatan warga negara India di kawasan Teluk daripada aspek legalitas serangan tersebut.
Faktor Ekonomi dan Tekanan Washington
Perubahan sikap India diyakini berkaitan erat dengan dinamika ekonominya dengan Amerika Serikat. Setelah sempat bersitegang mengenai pembelian minyak Rusia, PM Modi berhasil mencapai kesepakatan dengan Presiden Donald Trump untuk memangkas tarif impor dari 50% menjadi 18%. Sebagai imbalannya, India setuju untuk beralih membeli minyak dari AS.
Ketidakhadiran India dalam latihan militer gabungan BRICS di Afrika Selatan pada Januari lalu menjadi sinyal kuat bahwa New Delhi enggan bergesekan dengan kepentingan keamanan Barat.
Editor: Redaktur TVRINews





