Pemerintah memastikan cadangan pangan nasional dalam kondisi aman meski situasi geopolitik global memanas akibat perang Iran dan Amerika Serikat (AS) dengan Israel. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyebut stok pangan Indonesia saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 324 hari ke depan.
Amran mengatakan pemerintah telah menghitung kekuatan cadangan pangan nasional dengan mempertimbangkan kondisi geopolitik dan potensi gangguan cuaca.
"Kita sudah tahu bahwa terjadi perang antara Iran dengan Israel kita hubungkan kondisi pangan yang ada sekarang. Alhamdulillah setelah kami menghitung kekuatan pangan kita dengan kondisi geopolitik yang memanas, pangan kita cadangan kita sampai dengan hari ini itu tersedia sampai dengan 324 hari cadangan pangan kita," ujar Amran saat konferensi pers di kantor Kementan, Jakarta, Jumat (6/3).
Amran menjelaskan penghitungan berasal dari berbagai sumber cadangan pangan nasional, mulai dari stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog, cadangan di sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka), hingga potensi produksi dari tanaman yang sedang tumbuh di lahan pertanian.
"Mulai dari cadangan Bulog itu 3,7 (juta ton) di Horeka 12 juta lebih, kemudian standing crop juga 10-11 juta, totalnya bisa bertahan 324 hari," tegas Amran.
Amran menekankan angka 324 hari bukan berarti pemerintah hanya mengandalkan stok yang ada. Produksi pangan nasional dipastikan tetap berjalan setiap bulan, sehingga pasokan terus bertambah.
"Dan bukan bahwa 324 hari stok dan kita produksi terus menerus setiap bulan 2,6 juta sampai 5,7 juta ton proyeksi antara dua minimal 2,6 juta sampai 5,7 juta ton, jadi insyaallah pangan aman," ujar Amran.
Amran menilai pemerintah saat ini menghadapi dua tantangan utama yang perlu diantisipasi, yaitu kondisi geopolitik global yang memanas dan potensi kekeringan berdasarkan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Amran menuturkan Indonesia punya pengalaman dalam menghadapi situasi yang lebih sulit, seperti fenomena El Nino yang kuat pada 2023 lalu. Saat itu, rencana impor pangan yang awalnya diperkirakan mencapai 10 juta ton akhirnya dapat ditekan.
"Kita ada pengalaman menghadapi yang paling keras, ini kan El Nino nanti bulan depan El Nino kita hadapi yang paling dahsyat 2023. Alhamdulillah kita bisa lolos, dari rencana impor waktu itu 10 juta kami ikut ratas. Alhamdulillah kita bisa redam hanya 3 juta lebih," tutur Amran.
"Tiap bulan kita produksi 2,6 juta sampai 5,7 juta ton itu proyeksinya, jadi sedangkan kebutuhan kita adalah 2,5 lebih 2,5 juta top per bulan. Jadi pangan aman, nggak usah risau dengan El Nino," tambahnya.
Untuk mengantisipasi potensi kekeringan, Kementan juga menyiapkan program pompanisasi agar memastikan pasokan air bagi lahan pertanian tadah hujan.
"Ini insyaallah (El Nino) lebih mudah dihadapi, kenapa, karena pangan sudah siap pompanisasi 1,2 juta hektare bisa menjangkau pompa kita, 1,2 juta hektare yang tadah hujan oke, kemudian tahun ini kita siapkan lagi 1 juta hektare jadi 2 juta, nanti kita siapkan yang pada saat musim kering bisa kita alirin pompanisasi sungai-sungai dan sungai sumur dalam, sumur dalam kita sudah siapkan," terang Amran.





