Bisnis.com, JAKARTA — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) buka suara perihal penurunan peringkat kualitas layanan dari maskapai bintang lima menjadi bintang empat oleh lembaga pemeringkat penerbangan global, Skytrax.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen GIAA mengakui bahwa berdasarkan hasil penilaian Skytrax, standar produk yang disediakan perseroan tidak lagi relevan dengan kriteria maskapai bintang lima.
Adapun penurunan status tersebut mencakup kualitas layanan kabin hingga performa awak kabin yang sempat tergerus selama masa restrukturisasi.
Manajemen Garuda Indonesia menjelaskan bahwa saat ini perseroan tengah menjalankan program transformasi layanan secara menyeluruh. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pembenahan mendasar untuk memperbaiki setiap titik sentuh atau touch points perjalanan penumpang.
Sejalan dengan program transformasi layanan, perseroan tengah menjalankan berbagai pembenahan mendasar melalui penyusunan roadmap peningkatan secara menyeluruh,” tulis keterangan manajemen GIAA, Jumat (6/3/2026).
Meskipun predikat bintang lima lepas dari genggaman, manajemen GIAA menegaskan bahwa penurunan peringkat ini tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun aktivitas bisnis perseroan.
Baca Juga
- Garuda (GIAA) Tebar Diskon 20% Jelang Mudik, Cek Rute & Syaratnya
- Perkuat Garuda (GIAA), Danantara Kejar Optimalisasi dan Profitabilitas
- Saham Garuda Indonesia (GIAA), Analis Soroti Likuiditas di BEI Setelah Danantara Kucurkan Rp23 T
Secara finansial, perseroan juga menyatakan kondisi keuangan saat ini tidak terganggu oleh rilis peringkat dari Skytrax tersebut. Fokus perusahaan kini tertuju pada penguatan brand equity sebagai maskapai full service carrier.
Guna merebut kembali status bintang lima, GIAA tengah mengoptimalisasi berbagai inisiatif pembenahan yang meliputi penyegaran ground service di bandara, renovasi ruang tunggu, hingga pengembangan layanan digital.
Perseroan juga menargetkan penyempurnaan pada inflight service dan pengalaman penerbangan secara umum. Strategi diselaraskan dengan konsep Indonesian Hospitality yang menjadi ciri khas layanan Garuda selama ini.
“Perseroan memproyeksikan tahun 2026 sebagai momentum percepatan transformasi fundamen lini layanan maskapai, seiring dengan langkah konsolidasi berkelanjutan yang dijalankan untuk memperkuat kinerja.”
________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





