Refleksi atas Tanggapan China & Rusia terhadap Serangan AS & Israel ke Iran

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Langkah militer yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran bukan hanya memantik konflik regional, tetapi juga menjadi cermin dari persaingan struktural antara kekuatan besar di tatanan internasional. Respon dari China dan Rusia menunjukkan bahwa rivalitas geopolitik saat ini bukan semata tentang konflik dua negara, tetapi tentang bagaimana norma dan kekuasaan saling beradu di panggung global. Dalam pernyataannya, China secara tegas mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran norma internasional, menegaskan bahwa tindakan militer tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB “melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan internasional.” China menyerukan agar semua pihak segera menghentikan operasi militer, kembali ke jalur dialog dan negosiasi, serta menghormati kedaulatan dan integritas wilayah semua negara yang terlibat. China juga menyatakan bahwa “melindungi warga sipil di wilayah konflik adalah garis merah yang harus dihormati,” dan memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan hanya akan memperburuk kebencian dan kontradiksi di kawasan tersebut. Sementara itu, Rusia menyuarakan kritik keras terhadap tindakan AS dan Israel, menyebut serangan itu sebagai “tindakan agresi bersenjata yang direncanakan dan tidak berdasar” terhadap negara yang berdaulat. Rusia memperingatkan bahwa dalih peningkatan keamanan seperti klaim tentang program nuklir Iran bisa berbalik memicu proliferasi nuklir di Timur Tengah dan menciptakan krisis kemanusiaan serta ketidakstabilan yang lebih besar. Vladimir Putin bahkan memandang serangan itu sebagai pelanggaran langsung terhadap hukum internasional dan prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedua pernyataan resmi ini mencerminkan kontradiksi antara kekuatan nyata dan norma internasional. Di satu sisi, AS menggunakan kekuatan militer atas nama keamanan nasional; di sisi lain, China dan Rusia memposisikan diri sebagai pembela tatanan hukum global. Namun, perlu dicatat bahwa tanggapan politik yang keras tidak diikuti oleh keterlibatan militer langsung dari China atau Rusia. Hal ini menandakan bahwa meskipun retorika mereka tegas, tindakan praktis kedua negara tetap berhitung rasional dan menghindari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat. Dari perspektif hubungan internasional, ini menunjukkan dinamika yang lebih kompleks daripada sekadar “blok Barat vs. blok Timur.” China dan Rusia menyuarakan norma internasional ketika itu menguntungkan posisi geopolitik mereka dalam menghadapi kebijakan AS, tetapi mereka juga enggan mengambil risiko militer yang bisa memperluas konflik. Dengan kata lain, kritik terhadap AS bukan semata tentang solidaritas dengan Iran, melainkan tentang strategi untuk mempertahankan pengaruh mereka dalam sistem internasional dan menantang hegemoni AS dari ranah diplomatik dan hukum internasional. Sebagai mahasiswa yang mengamati fenomena ini, kita perlu menyadari bahwa konflik seperti ini bukan hanya soal dua atau tiga negara, melainkan soal penafsiran ulang norma internasional, persaingan kekuatan besar, dan mekanisme penyeimbangan yang terus berubah dalam sistem global. Kekuatan militer AS dan kritik diplomatik China-Rusia terhadapnya mencerminkan ketegangan antara realisme kekuatan dan liberalisme norma dua kutub yang kini sedang diuji dalam realitas geopolitik abad ke-21.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kerugian Capai Rp143 Miliar 6 Ribu Rekening Nasabah Bank Jambi Dibobol
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Alasan Biarkan Bigmo dan Resbob Jadi Tersangka, Azizah Salsha Kesal Sudah Difitnah: Ini Dampaknya Buruk
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
DPRD Kota Surabaya Minta Kejelasan Beasiswa PAUD-TK agar Tepat Sasaran
• 11 jam laludetik.com
thumb
Markas UNIFIL di Lebanon Diserang Rudal, 3 Pasukan Perdamaian Terluka
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Update Harga Emas Antam 7 Maret 2026: Naik Rp35 Ribu, Buyback Jadi Rp2,82 Juta
• 2 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.