Indonesia sepakat membuka keran impor bagi pakaian bekas yang telah dicacah dari Amerika Serikat (AS). Kesepakatan ini masuk dalam Perjanjian Dagang Resiprokal atau The Agreement on Reciprocal Trade yang ditandatangani Indonesia dan AS pada 19 Februari lalu.
Di Artikel 2.8 jelas tertulis: “Indonesia akan mengizinkan impor pakaian bekas yang telah dihancurkan dari Amerika Serikat guna mendorong perdagangan dan sirkularitas dalam industri pakaian daur ulang Amerika Serikat yang sangat berkembang.”
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan, pakaian bekas cacah atau worn shredded clothing (SWC) akan dimanfaatkan sebagai bahan baku kain perca dan produk tekstil lainnya, seperti benang daur ulang.
"Pemerintah telah memastikan bahwa sudah ada industri dalam negeri yang akan menampung seluruh impor SWC tersebut sebagai bahan baku produksi, sehingga tidak ada produk yang masuk ke pasar sebagai pakaian bekas," kata dia melalui keterangan tertulis, Februari lalu.
Pernyataan Airlangga soal kesiapan Indonesia ini menarik, mengingat selama ini banyak sampah tekstil di dalam negeri yang tidak tertangani dengan baik. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2021, Indonesia menghasilkan kurang lebih 2,3 juta ton limbah tekstil. Namun, hanya 0,3 juta ton yang didaur ulang.
Lantas, seberapa besar sampah tekstil AS hingga Negeri Paman Sam tersebut meminta bantuan Indonesia untuk jadi penampung sampah?
Besarnya Sampah Tekstil AS yang Belum TertanganiJika menilik data lembaga perlindungan lingkungan AS (EPA), Negeri Paman Sam menghasilkan 17,03 juta ton sampah tekstil pada 2018. Jumlahnya meningkat hampir 50 persen dibandingkan timbulan sampah tekstil pada 2000 yang baru mencapai 9,4 juta ton.
Sampah tekstil yang dimaksud tak hanya pakaian bekas, tapi juga furnitur, karpet, alas kaki, serta barang tak tahan lama lainnya seperti handuk dan seprai. Dari total timbulan sampah tekstil tersebut, AS baru mampu memanfaatkan dan mendaur ulang sekitar 14,7 persen.
Sedangkan bila mengacu pada peta World of Waste yang dikembangkan oleh jaringan yang mendukung inovasi keberlanjutan Fashion for Good, rata-rata sampah pakaian bekas pakai konsumen AS mencapai 15,4 juta ton per tahun.
Dengan rata-rata ini, AS jadi salah satu produsen sampah tekstil terbesar dunia. Sebagai gambaran, untuk mengangkut sekitar 15 juta ton sampah tekstil, dibutuhkan sekitar 100 kapal kargo berukuran besar, dengan asumsi setiap kapal mampu membawa sekitar 150 ribu ton muatan dalam sekali perjalanan.



