Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah militer Israel menyatakan bahwa semua opsi, termasuk kemungkinan invasi darat ke Lebanon, kini terbuka lebar. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi untuk menghadapi ancaman yang terus meningkat dari kelompok Hizbullah di perbatasan utara.
Juru bicara militer Israel, Ephraim Defrin, menegaskan bahwa pihak Zionis tengah menyiapkan berbagai skenario militer untuk menanggulangi serangan Hizbullah. Pernyataan ini muncul setelah Kepala Staf militer Israel melakukan peninjauan langsung di wilayah perbatasan utara dan memberikan persetujuan terhadap rencana operasi tersebut.
Defrin menambahkan bahwa fokus utama dari tindakan militer ini adalah untuk melucuti kekuatan lawan dan menghilangkan segala bentuk ancaman bagi warga Israel, khususnya mereka yang menetap di wilayah utara negara tersebut.
Baca juga: Warga Dahiyeh Mengungsi ke Utara Lebanon Usai Muncul Peringatan dari Israel
Ketegangan terbaru ini dipicu oleh serangan udara Israel ke wilayah Lebanon Selatan dan pinggiran selatan Beirut pada hari Senin lalu. Serangan tersebut diklaim sebagai respons atas aksi militer yang dilakukan oleh Hizbullah sebelumnya.
Hizbullah sendiri menyatakan bahwa serangan mereka merupakan bentuk balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di Iran pada pekan sebelumnya. Situasi ini telah memicu rentetan serangan balasan dari Iran yang menargetkan posisi Israel serta sejumlah aset Amerika Serikat di kawasan Teluk.



