Pagi belum sepenuhnya terang ketika langkah-langkah kaki mulai melintas di gang-gang sempit Kota Semarang, Jawa Tengah. Sejumlah orang berjalan menantang tanjakan dan turunan di tengah padatnya permukiman berbukit. Di sanalah aktivitas jalan kaki menjelma bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari gaya hidup urban.
Di tengah ritme hidup kota yang kian cepat, Urban Hiking Semarang (UHS) tumbuh sebagai tren gaya hidup sehat. Jalanan kampung, bukit-bukit kecil, dan kontur alami kota diolah menjadi ruang olahraga bersama. Aktivitas ini memadukan kebugaran fisik dengan pengalaman menjelajah sudut-sudut kota yang kerap luput dari perhatian.
Sabtu (7/2/2026) pagi, satu per satu peserta berdatangan ke halaman Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang, yang menjadi titik kumpul. Rute telah diumumkan sebelumnya melalui akun media sosial komunitas UHS. Komunitas ini rutin menggelar kegiatan empat kali dalam sepekan dengan rute yang selalu berpindah di berbagai wilayah Kota Semarang.
Urban Hiking Semarang lahir dari gagasan Rio Ardianto (48), mantan pebalap motor, pada 2022. Awalnya, ia hanya ingin berolahraga ringan dengan berjalan kaki. Ketidaksukaannya pada lari justru membuka jalan bagi terbentuknya komunitas yang kini berkembang pesat.
”Awalnya hanya ingin olahraga. Karena tidak suka lari, saya pilih jalan kaki,” ujar Rio. Dari sekadar mengajak teman-teman dekat, aktivitas ini kemudian berkembang menjadi ajang pertemuan lintas usia. Saat ini, jumlah anggota UHS mencapai sekitar 500 orang.
Rute yang dipilih pun tidak sembarangan. Selain harus relatif aman dari lalu lintas kendaraan, jalur juga dirancang menantang dengan tanjakan dan turunan khas topografi Semarang. Sejumlah kawasan perkampungan berbukit menyediakan elevasi yang memacu napas dan detak jantung para peserta.
Salah satu rute yang ditempuh pagi itu adalah jalur start dan finis Sam Poo Kong-Kampung Srinindito-Kampung Kumudasmoro sejauh sekitar lima kilometer. Sebanyak 200 peserta berjalan beriringan menyusuri gang sempit, anak tangga, hingga tanjakan curam yang menguji ketahanan fisik.
Budi (54), peserta yang telah rutin mengikuti agenda UHS selama setahun terakhir, mengaku menemukan hobi baru yang menyenangkan sekaligus menyehatkan di sela kesibukannya bekerja. Di usianya yang tak lagi muda, olahraga menjadi bagian penting dalam menjaga kebugaran.
”Urban hiking jadi kegiatan rutin untuk olahraga sekaligus rekreasi. Kita bisa jalan kaki sambil menjelajah tempat-tempat baru yang belum pernah didatangi,” kata Budi. Hal serupa dirasakan Clara (34). Bagi dia, komunitas UHS menjadi ruang untuk menemukan kebahagiaan sederhana setiap kali berhasil menaklukkan tanjakan demi tanjakan.
Setelah hampir 45 menit berjalan kaki menaiki jalan berbukit, para peserta disuguhi pemandangan Kota Semarang dari ketinggian. Mereka pun menyempatkan diri berfoto dan membuat konten untuk media sosial masing-masing.
Sementara itu, suara aba-aba dari Rio melalui pelantang terus terdengar, menyemangati peserta yang masih tertinggal di barisan belakang. Di tengah kota yang serba cepat dan sibuk itu urban hiking menawarkan ritme berjalan perlahan, mengenali ruang, dan merawat tubuh bersama-sama.





