Bisnis.com, JAKARTA - Investasi obligasi sering dianggap sebagai pilihan yang stabil dan minim risiko. Namun, tidak semua obligasi memiliki sistem yang sama. Saat ini, banyak investor mulai melirik sukuk, yaitu instrumen investasi berbasis syariah yang berbeda dengan obligasi konvensional.
Perbedaan konsep ini sering menimbulkan pertanyaan di kalangan investor pemula, terutama terkait obligasi biasa vs sukuk, cara membeli, hingga potensi keuntungannya dalam jangka panjang.
Apa Itu Sukuk dan Obligasi Negara?Secara umum, obligasi negara merupakan surat utang yang diterbitkan pemerintah untuk mendapatkan dana dari masyarakat atau investor. Dana tersebut biasanya digunakan untuk membiayai pembangunan, menutup defisit anggaran, atau mendanai proyek strategis.
Sementara itu, sukuk adalah surat berharga syariah yang diterbitkan berdasarkan prinsip Islam. Berbeda dengan obligasi konvensional yang menggunakan sistem bunga, sukuk menggunakan mekanisme bagi hasil, margin, atau sewa (akad) yang sesuai dengan aturan syariah. Dalam sukuk, investor tidak sekadar memberikan pinjaman kepada penerbit, tetapi memiliki kepemilikan atas aset yang menjadi dasar penerbitan sukuk (underlying asset).
Karena mengikuti prinsip syariah, sukuk tidak mengandung unsur:
- riba (bunga),
- gharar (ketidakjelasan transaksi),
- maysir (spekulasi atau perjudian).
Hal inilah yang membuat sukuk menjadi alternatif investasi yang dianggap halal dan stabil bagi banyak investor.
Baca Juga
- Lebih Aman Investasi Emas Digital atau Emas Fisik? Ini Penjelasan Lengkapnya
- SMI Bakal Luncurkan Obligasi hingga Rp10 Triliun Sepanjang 2026
Perbandingan antara obligasi konvensional dan sukuk dapat dilihat dari beberapa aspek utama.
1. Prinsip dasar- Pada obligasi konvensional, hubungan antara investor dan penerbit adalah hubungan utang-piutang. Investor memberikan dana dan akan menerima pembayaran bunga secara berkala.
- Sedangkan pada sukuk, investor memiliki kepemilikan bersama atas aset atau proyek yang menjadi dasar penerbitan surat berharga tersebut.
- Obligasi memberikan imbalan berupa kupon bunga yang bisa bersifat tetap atau mengambang.
- Sukuk memberikan imbalan berdasarkan akad syariah, seperti bagi hasil usaha, margin keuntungan, atau pembayaran sewa dari aset yang dibiayai.
Sukuk wajib mengikuti aturan syariah dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. Obligasi konvensional tidak memiliki ketentuan tersebut.
4. Underlying assetSukuk harus memiliki aset dasar seperti proyek infrastruktur atau aset nyata lainnya. Obligasi konvensional tidak selalu membutuhkan aset pendukung.
5. RisikoRisiko pada sukuk berkaitan dengan kinerja aset yang menjadi dasar investasi, sedangkan obligasi lebih berfokus pada risiko penerbit dalam membayar utang.
Jenis Sukuk Negara yang Populer di IndonesiaPemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan menerbitkan beberapa jenis sukuk yang bisa dibeli oleh masyarakat.
1. Sukuk Tabungan (ST)Sukuk tabungan merupakan produk investasi syariah dengan tenor dua hingga empat tahun. Imbal hasilnya bersifat floating with floor, yaitu mengikuti suku bunga acuan namun memiliki batas minimal tertentu.
Selama masa investasi, sukuk tabungan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, tetapi investor masih bisa mencairkan sebagian dana melalui fasilitas early redemption.
2. Sukuk Ritel (SR)Sukuk ritel memiliki imbal hasil tetap dan tenor sekitar tiga tahun. Berbeda dengan sukuk tabungan, produk ini dapat diperjualbelikan di pasar sekunder setelah melewati masa holding period.
Nilai pembelian biasanya dimulai dari Rp1 juta, sehingga cukup terjangkau bagi investor pemula.
Cara Beli Sukuk Secara ResmiBanyak orang mengira membeli sukuk sulit, padahal prosesnya cukup sederhana dan bisa dilakukan secara online. Berikut cara beli sukuk & risikonya yang perlu diketahui investor.
1. Registrasi melalui mitra distribusiInvestor harus mendaftar di mitra distribusi resmi yang ditunjuk Kemenkeu, seperti:
- Bank BCA
- Bank Mandiri
- BRI
- BNI
- Aplikasi investasi seperti Bareksa, Bibit, dan Tanamduit
- Perusahaan sekuritas
Registrasi biasanya membutuhkan data seperti SID (Single Investor Identification), rekening dana, dan rekening surat berharga.
2. Pemesanan saat masa penawaranKetika pemerintah membuka masa penawaran sukuk, investor dapat:
- login ke aplikasi atau website mitra distribusi
- memilih seri sukuk yang tersedia
- menentukan nominal pembelian (mulai Rp1 juta)
Investor juga perlu menyetujui dokumen memorandum informasi sebelum melanjutkan transaksi.
3. Melakukan pembayaranSetelah pesanan diverifikasi, investor akan mendapatkan kode billing untuk pembayaran melalui mobile banking, ATM, atau teller bank.
4. Konfirmasi kepemilikanJika pembayaran berhasil, investor akan menerima NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara) sebagai bukti transaksi. Sukuk akan masuk ke portofolio investasi pada tanggal penerbitan.
Panduan ini juga sejalan dengan panduan resmi dari Kemenkeu terkait pembelian Surat Berharga Negara ritel secara elektronik.
Keuntungan Jangka Panjang Berinvestasi SukukSukuk menjadi pilihan menarik bagi banyak investor karena menawarkan beberapa keunggulan.
- Pendapatan stabil
- Aman dan dijamin negara.
- Modal awal terjangkau
- Diversifikasi investasi
- Mendukung pembangunan negara
Meskipun tergolong aman, sukuk tetap memiliki beberapa risiko investasi yang perlu dipertimbangkan.
- Risiko gagal bayar
Risiko ini terjadi jika penerbit tidak mampu membayar imbal hasil atau pokok investasi. Namun pada sukuk negara, risiko ini relatif kecil karena dijamin pemerintah. - Risiko likuiditas
Tidak semua sukuk dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Beberapa produk seperti sukuk tabungan memiliki batasan pencairan sebelum jatuh tempo. - Risiko pasar
Harga sukuk ritel di pasar sekunder dapat turun ketika suku bunga naik, sehingga investor perlu mempertimbangkan waktu yang tepat untuk menjualnya.
Perdebatan obligasi biasa vs sukuk sebenarnya kembali pada kebutuhan dan preferensi investor. Obligasi konvensional menawarkan sistem bunga, sedangkan sukuk menggunakan prinsip syariah dengan mekanisme bagi hasil atau sewa.
Bagi investor yang menginginkan investasi halal, stabil, dan berpotensi memberikan keuntungan jangka panjang, sukuk bisa menjadi pilihan yang menarik. Apalagi proses pembeliannya kini semakin mudah berkat sistem online dan panduan resmi dari Kementerian Keuangan.
Dengan memahami apa itu sukuk & obligasi negara, cara beli & risiko, serta manfaatnya dalam jangka panjang, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih bijak dan sesuai dengan tujuan keuangan.





