Skotlandia menjadi negara pertama di Britania Raya yang mengizinkan metode kremasi berbasis air atau aquamation. Metode ini dinilai lebih ramah lingkungan dibanding kremasi tradisional yang menggunakan api dan gas.
Kremasi berbasis air dikenal juga sebagai biocremation, resomation, atau flameless cremation. Metode ini menggunakan teknik proses kimia bernama alkaline hydrolysis.
Jenazah manusia atau hewan diuraikan menggunakan larutan alkali yang dipanaskan. Setelah proses selesai, yang tersisa hanyalah kerangka.
Selama proses aquamation, tubuh ditempatkan dalam bejana bertekanan yang diisi campuran air dan kalium hidroksida (lye). Larutan tersebut kemudian dipanaskan hingga suhu sekitar 90 sampai 150 derajat Celsius.
Karena berada dalam kondisi bertekanan, cairan tidak mendidih. Sebaliknya, larutan tersebut secara perlahan menguraikan jaringan jaringan tubuh selama beberapa jam.
Setelah proses selesai, jaringan lunak akan terurai. Bagian yang tersisa adalah kerangka. Tulang ini kemudian dikeringkan dan digiling menjadi abu yang disebut cremains, yang nantinya bisa disimpan dalam guci atau disebarkan oleh keluarga.
Abu dari aquamation biasanya berwarna putih, berbeda dengan abu kremasi api yang cenderung abu abu keabu-abuan. Jumlah abu yang dihasilkan juga biasanya lebih banyak.
Metode ini memiliki beberapa keunggulan tambahan, misalnya, perangkat medis seperti alat pacu jantung (pacemaker) tidak perlu dilepas sebelum proses berlangsung. Kandungan merkuri dari tambalan gigi juga tidak terbakar dan bisa didaur ulang.
Alternatif Kremasi Ramah LingkunganKremasi tradisional membutuhkan energi yang sangat besar untuk menghasilkan panas yang cukup guna menguraikan tubuh manusia. Proses ini juga menghasilkan jutaan ton karbon dioksida setiap tahun, serta partikel polutan seperti PM10 dan PM2.5.
Kedua jenis partikel tersebut memiliki dampak kesehatan yang serius. PM10 dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan bunuh diri, sementara PM2.5 berhubungan dengan gangguan jantung dan paru-paru, penyakit kronis, hingga komplikasi saat kelahiran.
Sebaliknya, aquamation hanya membutuhkan sekitar sepertujuh energi yang digunakan dalam kremasi tradisional dan tidak menghasilkan emisi gas buang. Metode ini diperkirakan mampu mengurangi jejak karbon hingga 75 persen.
Cairan yang tersisa dari proses ini juga bersifat steril dan mengandung senyawa organik seperti garam dan asam amino. Cairan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pupuk atau dinetralkan sebelum dilepas secara aman ke saluran air.
Meski terdengar menjanjikan, kremasi air masih belum tersedia secara luas di banyak negara. Namun seiring meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim, metode ini berpotensi menjadi pilihan baru yang menarik bagi banyak orang.
Beberapa tokoh dunia bahkan telah memilih metode ini, salah satunya Desmond Tutu, tokoh anti-apartheid asal Afrika Selatan. Kini, Skotlandia menjadi negara pertama di Inggris Raya yang melegalkan kremasi air.





