Bisnis.com, JAKARTA — PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN) atau BFI Finance membukukan pembiayaan baru sebesar Rp21,9 triliun, naik 9,3% (year on year/YoY) sepanjang 2025.
Sementara itu, piutang dikelola (managed receivables) juga ikut tumbuh 8,9% YoY menjadi Rp26,3 triliun. Dengan demikian, total aset BFI Finance per 2025 sebesar Rp25,5 triliun atau naik 1,4% YoY.
Presiden Direktur BFI Finance, Sutadi menilai capaian tersebut membuktikan BFI Finance mampu menjaga resiliensi bisnis dengan permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang manageable.
“Tentunya ini semua berkat kemampuan dalam menerapkan prinsip agility yang diiringi dengan kerja keras seluruh tim, semangat berkolaborasi yang strategis, serta kepercayaan dari konsumen, investor, dan berbagai pemangku kepentingan terkait,” ucapnya dalam keterangan resmi, dikutip pada Sabtu (7/3/2026).
Sutadi tidak memungkiri bahwa 2025 adalah tahun yang menantang bagi industri pembiayaan. Pasalnya, industri dihadapkan pada dinamika pasar yang dipengaruhi oleh perubahan perilaku daya beli dan konsumsi masyarakat, serta meningkatnya sensitivitas terhadap risiko di berbagai segmen.
Selain itu, dipengaruhi juga oleh kondisi yang mencerminkan situasi di masyarakat itu sendiri dan keputusan finansial mereka terhadap perkembangan ekonomi makro dalam negeri.
Baca Juga
- Fintech Pinjam Modal Tutup, BFI Finance Berpeluang Garap Bisnis BNPL?
- BFI Finance (BFIN) Umumkan Rencana Buyback hingga Rp100 Miliar
- Fitch Pertahankan Peringkat Obligasi BFI Finance (BFIN) AA- Outlook Stabil
“Merespons kondisi tersebut, perusahaan menerapkan langkah-langkah pengelolaan bisnis yang berfokus pada penguatan kualitas portofolio dan ketahanan operasional, disertai penyesuaian strategi pada setiap lini produk,” jelasnya.
Adapun, melalui ragam layanan pembiayaan, BFI Finance terus mendukung aktivitas ekonomi pada berbagai segmen konsumen, mulai dari kebutuhan individu, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga kebutuhan skala bisnis besar.
Sutadi merincikan, hingga Desember 2025 komposisi piutang dikelola didominasi oleh pembiayaan produktif, yakni modal kerja sebesar 57,3% dan investasi sebesar 17,6%.
“Sementara, piutang pembiayaan yang disalurkan untuk tujuan multiguna tercatat memiliki porsi sebesar 22,0% dan pembiayaan berbasis syariah sebesar 3,1%,” tuturnya.
Kemudian, untuk income statement BFI Finance menorehkan total pendapatan senilai Rp6,7 triliun selama 2025, naik 6,5% YoY. Perusahaan juga mencatatkan kinerja yang stabil dengan profitabilitas tercatat sebesar 1,0% YoY menjadi Rp1,581 triliun.
Di lain sisi, Non-Performing Financing (NPF) gross BFI Finance per akhir 2025 di level 1,39% dan NPF net 0,22%. Posisi ini lebih rendah dibandingkan NPF rata-rata industri yang berada di level bruto 2,51% dan neto 0,77%.
“Melalui pengelolaan manajemen risiko yang cermat untuk menjaga kualitas aset, BFI Finance mampu mempertahankan stabilitas kinerja sekaligus mempertahankan posisi keuangan yang solid sebagai fondasi untuk pertumbuhan di masa depan,” jelasnya.
Lebih jauh, Sutadi menyebut Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) masing masing tercatat sebesar 7,9% dan 14,8%. Sementara itu, gearing ratio sebesar 1,3 kali.
Untuk diketahui pula, pada 2025 BFI Finance telah menyelesaikan pembagian dividen dengan total nilai Rp902 miliar untuk tahun buku 2024, serta membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2025 pada 18 Desember lalu sebesar Rp35,00 per lembar saham atau setara Rp520 miliar.





