Jika Bisa Berkomunikasi, Jangan Memilih Diam

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seorang perempuan baru saja menikah dan tinggal bersama suami serta mertuanya.

Suatu hari ia melihat beberapa buah di dalam kulkas. Tanpa banyak pikir, ia mengambil blender dan mengolah buah-buah itu menjadi jus segar. Tak disangka, sang ibu mertua meminumnya sampai beberapa gelas dan memuji hasilnya dengan penuh semangat.

Sejak saat itu, sang menantu sering membuat jus, menuangkannya ke dalam botol, lalu menyimpannya di kulkas. Setiap pulang kerja, ia selalu mendapati botol itu sudah kosong. Di dalam hati ia merasa senang. Ia mengira itulah cara dirinya menjalin kedekatan dengan ibu mertua.

Namun suatu hari, ia pulang satu jam lebih awal dari biasanya. Tanpa sengaja ia melihat sesuatu yang membuat hatinya terhenyak—ibu mertuanya berdiri di dapur dan menuangkan seluruh jus yang ia buat dengan susah payah ke dalam wastafel.

Ia tidak memperlihatkan bahwa ia menyaksikan kejadian itu. Ia hanya kembali ke kamar dan memendam perasaannya. Semakin dipikirkan, semakin ia merasa tersinggung dan terluka. Dalam benaknya terus berputar satu kesimpulan: “Pasti ibu mertua membenciku. Kalau tidak, mengapa melakukan hal seperti itu?”

Sejak hari itu ia berhenti membuat jus. Ia juga menjadi semakin sensitif. Suara piring yang sedikit beradu saat dicuci terasa seperti bentuk “protes”. Ucapan sederhana seperti “Hari ini berdebu sekali” ia tafsirkan sebagai sindiran bahwa lantai rumah tidak bersih. Setiap kali melihat ibu mertua, ia merasakan tekanan yang besar. Akhirnya ia memilih menghindar dan lebih sering mengurung diri di kamar.

Suatu hari, sang suami bertanya, “Apa ada masalah antara kamu dan Ibu? Ibu bilang dulu kamu sering membuatkan jus, sekarang sudah tidak pernah lagi.”

Mendengar itu, air mata perempuan itu langsung mengalir. Ia merasa ibu mertua benar-benar “licik”. Tidak mau minum jus buatannya saja sudah menyakitkan, sekarang malah mengadu kepada suaminya. Ia pun menangis sambil menceritakan semuanya secara rinci.

Sang suami kemudian mengajaknya menemui ibunya.

“Bu, kenapa jus itu dibuang?” tanya sang suami.

“Apa? Ibu tidak pernah membuangnya,” jawab ibu mertua.

Dalam hati si menantu berpikir, ternyata pandai sekali berpura-pura.
“Saya melihat sendiri!” katanya tegas.

Ibu mertua terdiam sejenak, lalu seperti teringat sesuatu. “Oh… sepertinya memang pernah ada kejadian seperti itu…”

Belum selesai berbicara, si menantu langsung memotong, “Lihat! Ibu mengaku!”

“Tapi,” lanjut ibu mertua, “waktu itu ada kecoa merayap masuk ke dalam jus. Masa tidak Ibu buang?”

Suasana mendadak hening.

Setelah semuanya jelas, si menantu menyesal. Ia berkata, “Aku benar-benar menyesal telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk menebak-nebak. Seandainya saat itu aku langsung bertanya, kesalahpahaman ini tidak akan terjadi.”

Hanya karena seekor kecoa, hubungan yang sebenarnya harmonis hampir retak.

Kisah ini bukan cerita yang dibesar-besarkan. Ia benar-benar terjadi. Dan ketika si menantu terjebak dalam prasangkanya, yang menderita bukan hanya dirinya—suaminya pun ikut terseret dalam suasana tegang, sementara sang ibu mertua kebingungan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Mengapa sering kali kita memilih menangis sendirian, marah dalam diam, atau menyimpan kekecewaan, daripada sekadar bertanya dan memastikan kebenaran?

Tiga kata sederhana—“tanya dengan jelas”—sering kali seperti mantra yang mampu menghapus begitu banyak beban dan kesalahpahaman dalam sekejap.

Renungan

Anggur yang disimpan semakin lama akan semakin harum dan matang. Sebaliknya, kesalahpahaman yang dibiarkan terlalu lama akan berubah menjadi kebencian yang semakin dalam.

Untunglah, ibu mertua dan menantu ini meluruskan persoalan sebelum hubungan mereka benar-benar terikat simpul mati. Jika tidak, satu simpul kecil di hati bisa berubah menjadi badai besar yang mengguncang sebuah keluarga.

Orang yang pandai membaca situasi memang terlihat cerdas. Namun terkadang justru kecerdasan itulah yang menjerumuskan. Kita merasa yakin telah memahami isi hati orang lain, lalu mengambil kesimpulan berdasarkan sudut pandang sendiri.

Memang, ada kalanya tebakan kita benar. Tapi ada kalanya meleset jauh dari kenyataan. Dan di situlah kesalahpahaman mulai tumbuh, meruntuhkan kepercayaan yang sudah lama dibangun.

Seperti pepatah lama: “Orang bijak pun bisa salah.”
Satu kesalahan kecil dapat menghapus seribu kebaikan sebelumnya.

Di masa lalu, banyak orang diajarkan bahwa memendam perasaan dan menelan kekecewaan adalah bentuk kebajikan. Namun zaman telah berubah. Kini kita belajar bahwa komunikasi yang jujur dan terbuka jauh lebih menyehatkan.

Masalah yang dibicarakan akan menemukan jalan keluar.
Kesalahpahaman yang dijelaskan akan kehilangan kekuatannya.

Jika bisa berkomunikasi, jangan memilih untuk diam.
Karena sering kali, keharmonisan tidak hancur oleh niat jahat—melainkan oleh prasangka yang tak pernah diklarifikasi. (jhon)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
[FULL] Dubes RI untuk Lebanon soal WNI di Lebanon Ditengah Konflik Iran Vs AS-Israel, Akan Dievakuas
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Jamaah Umrah Asal Tapin Tertahan di Makkah Sejak Februari
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Jadi Tersangka Pencemaran Nama Baik Pencuri, Owner Bibi Kelinci: Di Mana Hati Nuraninya?
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Stok Beras Aman, BULOG Ungkap Cadangan Beras Pemerintah Diproyeksikan Cukup Hingga 324 Hari
• 21 jam laludisway.id
thumb
Geger! Istri Muda Habisi Nyawa Suami di Tigaraksa Tangerang, Tak Disangka Pelaku Lakukan Ini Setelahnya..
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.