Bisnis.com, JAKARTA - Tunjangan Hari Raya (THR) sering kali menjadi momen yang dinantikan banyak orang menjelang Lebaran. Tambahan pendapatan ini kerap dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari belanja kebutuhan hari raya, berbagi dengan keluarga, keperluan mudik, hingga tambahan investasi.
Namun tanpa perencanaan yang matang, dana THR juga berpotensi cepat habis dalam waktu singkat. Oleh karena itu, mengatur penggunaan THR secara bijak menjadi hal yang penting.
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi Mike Rini Sutikno menjelaskan bahwa THR pada dasarnya dapat dipandang sebagai “gaji ke-13”, yakni pendapatan tambahan di luar gaji bulanan. Dana ini memang ditujukan untuk menutup kebutuhan perayaan hari raya yang sifatnya tidak rutin, karena pengeluaran pada periode tersebut umumnya meningkat dibandingkan bulan biasa.
Dalam perencanaan keuangan yang sehat, kebutuhan investasi biasanya sudah diambil dari gaji bulanan setelah kebutuhan rutin terpenuhi. Namun, jika menerima penghasilan tambahan seperti THR, dana tersebut tetap dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan tabungan atau melakukan diversifikasi investasi.
"THR tetap bisa dimanfaatkan untuk menambah tabungan atau investasi, misalnya untuk memperkuat portofolio maupun melakukan diversifikasi," katanya.
Terkait instrumen investasi, katanya, investor sebaiknya tidak langsung berfokus pada produk terlebih dahulu. Langkah yang lebih penting adalah menilai kondisi keuangan serta menentukan prioritas finansial masing-masing individu.
Baca Juga
- Alasan Dirjen Pajak Potong THR Swasta dan Tanggung Pajak ASN
- THR 2026 Cair Jelang Lebaran, Analis Sarankan Investasi Selektif dan Bertahap
- Purbaya Pastikan THR ASN Mulai Dicairkan, Ini Tahapannya
Di tengah ketidakpastian global, seperti risiko geopolitik dan potensi perlambatan ekonomi, menjaga ketahanan finansial menjadi hal utama. Oleh karena itu, sebelum mulai berinvestasi, saat ini investor justru harus memastikan memiliki dana darurat terlebih dahulu, idealnya sebesar 6–12 kali pengeluaran bulanan. Setelah kebutuhan tersebut terpenuhi, barulah investasi dapat dipertimbangkan.
Namun, dalam berinvestasi pun perlu memilah lagi. Sebaiknya, katanya, investor juga perlu terlebih dahulu menentukan tujuan keuangannya. Untuk tujuan jangka pendek, misalnya persiapan menikah dalam waktu sekitar satu tahun, instrumen yang dipilih sebaiknya berisiko rendah seperti tabungan, deposito, atau reksa dana pasar uang.
Sementara itu, untuk investasi tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan anak atau dana pensiun, pilihan instrumen bisa lebih beragam, misalnya reksa dana saham, reksa dana campuran, atau emas. Meski emas dan saham dapat berfluktuasi dalam jangka pendek, dampaknya umumnya tidak terlalu signifikan jika investasi dilakukan dalam horizon waktu yang panjang.
"Dengan demikian, pemilihan instrumen investasi harus didasarkan pada tiga hal utama: tujuan investasi, jangka waktu investasi, dan profil risiko masing-masing individu," katanya.
Sementara itu, untuk menentukan porsi investasi dari THR, Mike Rini menyebut langkah pertama adalah mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhan pengeluaran hari raya. Besarnya pengeluaran bisa berbeda pada setiap orang, tergantung rencana mudik, jumlah keluarga yang dikunjungi, serta tradisi perayaan yang dijalankan.
Sebagai panduan praktis, THR dapat dibagi ke beberapa pos pengeluaran, misalnya 20% untuk zakat dan sedekah, 20% untuk konsumsi atau hidangan hari raya, 20% untuk busana baru, 20% untuk kebutuhan rumah atau persiapan menyambut tamu, serta 20% untuk tabungan atau investasi.





