SYL Kembali Muncul di Depan Publik Lewat Video Viral dari Lapas Sukamiskin, Ini Materi Lengkapnya!

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, JAKARTA – Mantan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), kembali muncul di publik. Video ceramahnya di Lapas Sukamiskin beredar luas di media sosial.

Ia memaparkan materi kepemimpinan ala pelatihan formal di hadapan para jemaah. SYL menyebut masa tahanannya sebagai pesantren untuk menikmati hidayah Allah SWT.

Berbeda dengan ceramah keagamaan pada umumnya, SYL tampil layaknya instruktur in-house training. Mengenakan kemeja putih dan kopiah, ia memanfaatkan papan tulis untuk menjelaskan konsep kepemimpinan.

Meski tengah menjalani masa pidana, ia tampak percaya diri dalam memaparkan pandangannya di depan warga binaan lainnya.

Dalam ceramah tersebut, SYL menyinggung kembali kasus hukum yang menjeratnya. Ia secara terbuka membantah tuduhan penyelewengan dana negara yang selama ini disematkan kepadanya.

Ia berdalih bahwa pengeluaran tersebut merupakan bagian dari operasional tugas kementerian yang ia pimpin kala itu.

Rekam Jejak Kasus Hukum SYL

Sebagai pengingat, SYL kini menjalani masa hukuman 12 tahun penjara setelah diperberat di tingkat banding. Pengadilan menyatakan dirinya terbukti melakukan korupsi dan pemerasan di lingkungan Kementerian Pertanian dengan total aliran dana puluhan miliar rupiah.

Selain pidana penjara, ia juga diwajibkan membayar uang pengganti senilai puluhan miliar rupiah. Sejak Mei 2025, ia mendekam di Lapas Sukamiskin, Bandung, yang ia sebut sebagai “pesantren” untuk merenungi perbuatannya dan membagikan pengalaman kepemimpinannya kepada sesama warga binaan.

Isi Lengkap Ceramah SYL:

“Membuat gerakan itu benar-benar mencapai sasaran. Tidak boleh ada pemborosan dalam pembiayaan.

Pemimpin itu, makanya, kalau agak pelit sedikit tidak apa-apa. Karena dia akan terus bertanya, ‘Betulkah ini harganya segini?’

Kalau ada pemimpin yang berkata, ‘Ah sudahlah, tidak apa-apa boros-boros saja,’ itu bukan pemimpin yang baik.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu mengefisienkan gerakan, mengefektifkan gerakan, dan menghindari kebocoran, bahkan menghindari penyelewengan.

Sekali lagi, saya masuk di sini bukan karena penyelewengan. Bukan. InsyaAllah. Saya janjikan dunia akhirat di masjid ini.

Saya berkontribusi kepada negara Rp2.400 triliun. Dalam setiap tahun, yang saya ambil hanya Rp44 miliar, itu pun untuk perjalanan ke luar negeri dan lain-lain.

Ini supaya jelas. Bukan saya mau membela diri di sini. Tidak ada gunanya membela diri. Yang ada adalah menikmati hidayah Allah.

Salah satunya, kalian ada di pesantren ini. Itu sudah betul. Daripada yang tidur di sana, kalian sudah betul. Dan ini tidak boleh kalian sia-siakan.

Makanya waktu saya dipanggil, saya bilang: oke, kalau untuk pesantren, saya siap. Semua ilmu yang saya miliki, insyaAllah akan saya bagikan. Dan saya sampaikan apa adanya.

Salah satu tugas pemimpin adalah mengharmonisasi anak buah, membuat anak buah mesra satu dengan yang lain.

Tidak boleh kita menjadi pemimpin yang membuat mereka saling berbenturan.

You’re not a leader kalau kamu membangun polarisasi. Kamu bukan pemimpin kalau mengatakan, ‘Oh kamu suku Makassar di sini, kamu suku Bugis di sana.’

Tidak boleh.

Kita pemimpin. Kita bapaknya. Kita harus membuat harmonisasi satu dengan yang lain. Harmonisasi itu membuat semua menjadi bersama dan mesra.

Tugas berikutnya, pemimpin harus memperhatikan kesejahteraan anak buah.

Tidak boleh kamu menyuruh orang pergi ke sana, pergi ke pasar, tetapi tidak diberi ongkos. Itu bukan pemimpin.

Kesejahteraan anak buah, termasuk gaji mereka, harus diperhatikan oleh pemimpin.

Jadi salah kalau ada pemimpin yang suka memalak ke bawah.

Dalam konsep kepemimpinan orang Bugis, justru raja yang memberi uang kepada rakyatnya, bukan sebaliknya.

Bukan rakyat yang memberi uang kepada pemerintah.

Saya masih ada materi, tetapi saya kira waktunya sudah cukup. Kalau Pak Tommy masih membutuhkan, masih ada tiga lembar lagi.

Baik, saya sampaikan yang terakhir saja.

Kalau kalian ingin menjadi pemimpin yang baik, kalian harus bisa menjadi anak buah yang baik.

Kamu baru bisa menjadi pemimpin yang baik kalau ketika menjadi anak buah kamu taat kepada komandanmu.

Kalau kamu menjadi anak buah yang jahat atau pengkhianat, kamu tidak akan bisa menjadi pemimpin yang baik.

Yang kedua, kalau ingin menjadi pemimpin yang baik, kamu harus menemukan harapan dan kebutuhan anak buah.

Harapan dan kebutuhan rakyat.

Harapan dan kebutuhan pimpinan yang ada di atasmu.

Waktu saya menjadi menteri, salah satu yang harus saya penuhi adalah bagaimana Presiden Pak Jokowi bisa merasa puas.

Bagaimana saya menemukan harapan dan kebutuhan Presiden.

Saya juga berusaha menemukan harapan dan kebutuhan para staf saya, para dirjen saya.

Saya berusaha menemukan harapan dan kebutuhan para petani terhadap sektor pertanian.

Bisa paham sampai di sini?

Jadi kalau kita bersama lima orang, kita harus tahu apa kebutuhan mereka dan apa harapan mereka kepada kita. Itu baru pemimpin.

Yang berikutnya, semua masalah yang kita hadapi tidak boleh hanya dipecahkan sendiri oleh pemimpin.

Jangan merasa pemimpin paling jago, paling pintar.

Pemimpin yang baik adalah yang menyelesaikan masalah bersama rakyat.

Kalau saya gubernur dan melihat suatu tempat kumuh, maka saya akan mencari solusi bersama.

Misalnya membuatkan penerangan listrik agar masyarakat bisa bergotong royong memperbaikinya.”(*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Istri Bunuh Suami di Tangerang, Berawal dari Cekcok soal Poligami
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Rusia Pemegang Kunci Damai AS-Israel-Iran, Saatnya Putin Bertindak?
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Klaim AS-Israel hanya serang militer disebut bohong, 1.332 warga tewas
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Qatar Ungkap Perang di Iran Bisa Jatuhkan Ekonomi Dunia, Produksi Minyak di Teluk Berpotensi Disetop
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
5 Mobil Zig-Zag dan Kebutan di Tol Becakayu Jakarta Timur, Polisi Buru Pengemudi
• 14 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.