Hilirisasi Jadi Jawaban Selesaikan Kolonialisasi Modern

republika.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hilirisasi dinilai bukan sekadar strategi industri, melainkan bagian dari ikhtiar bangsa untuk menghadirkan nilai tambah dan maslahat yang lebih luas. Dengan mengelola sumber daya alam dari hulu hingga hilir di dalam negeri, manfaat yang tercipta tidak berhenti pada angka ekonomi, tetapi menguatkan kemandirian nasional.

Tokoh agama Husein Ja'far Al Hadar menyampaikan, bentuk kolonialisasi modern dapat terjadi ketika suatu bangsa hanya menjual bahan mentah tanpa mengolahnya lebih lanjut.

“Kalau kita hanya menjual mentahnya saja, kita belum menjadi tuan di negeri sendiri. Ketika kita mulai berpikir hilirisasi, itu langkah menuju kemandirian,” ujar Husein Ja’far.

Menurutnya, kemandirian bukan berarti menutup diri dari dunia. Sebuah bangsa tetap berinteraksi dan bekerja sama, tetapi memiliki kendali atas pengelolaan kekayaannya sendiri.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

“Mandiri bukan berarti sendiri. Kita tidak bisa hidup sendiri, tetapi kita harus menjadi tuan di negeri sendiri. Mengelola dari hulu sampai hilir untuk kebaikan bangsa,” katanya.

Ia menegaskan bahwa ukuran utama dari kebijakan dan aktivitas ekonomi adalah manfaat yang dihasilkan. Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad bersabda, “Khairunnas anfa’uhum linnas” — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

“Ukuran kebaikan itu manfaat. Bukan hanya untuk kelompoknya, bukan hanya untuk agamanya, tetapi untuk seluruh manusia, bahkan seluruh alam,” ujar Husein Ja’far.

Karena itu, lanjutnya, pengelolaan sumber daya harus diniatkan sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan, dijalankan dengan cara yang benar, dan ditujukan untuk maslahat bersama.

“Hilirisasi yang benar adalah yang menghadirkan tambahan manfaat. Memberi nilai tambah bagi bangsa, memperkuat kedaulatan, dan tetap menjaga keberlanjutan,” tuturnya.

Dengan pendekatan tersebut, hilirisasi seperti yang dijalankan oleh Grup MIND ID diharapkan tidak hanya menjadi agenda ekonomi, tetapi juga wujud tanggung jawab moral sebuah bangsa dalam mengelola kekayaan alam untuk kemaslahatan bersama.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ringgo Agus Rahman Ungkap Kondisi Sheila Dara Usai Vidi Aldiano Meninggal
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Peringatan Dini BMKG Jabodetabek 7 8 Maret 2026: Sejumlah Wilayah Jakarta Siaga Hujan Lebat
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Jika Bisa Berkomunikasi, Jangan Memilih Diam
• 13 jam laluerabaru.net
thumb
Trump Bahas Konflik Iran di Depan Messi dkk
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Suasana Rumah Duka Vidi Aldiano: Rekan Artis Berdatangan Beri Penghormatan Terakhir
• 4 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.