Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Sukabumi
Sebanyak 114 rumah di Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan mengalami kerusakan akibat fenomena gerakan tanah yang dipicu peningkatan intensitas hujan sejak Rabu, 4 Maret 2026.
Berdasarkan data terbaru hingga Jumat, 6 Maret 2026, kerusakan tersebut terdiri dari 70 rumah rusak berat, 26 rumah rusak sedang, dan 18 rumah rusak ringan. Selain itu, sembilan rumah lainnya berada dalam kondisi terancam.
Peristiwa yang terjadi di Desa Bantargadung dan Desa Bojonggaling itu berdampak pada 134 kepala keluarga atau sekitar 475 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 120 kepala keluarga yang terdiri dari 407 jiwa terpaksa mengungsi karena kondisi bangunan tidak lagi aman untuk ditempati.
Selain permukiman warga, kerusakan juga terjadi pada satu unit fasilitas pendidikan serta akses jalan di wilayah terdampak.
Merespons kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat bencana tanah bergerak melalui Surat Keputusan Nomor 300.2.1/Kep 246-BPBD/2026 yang berlaku selama tujuh hari, mulai 4 hingga 10 Maret 2026.
Penetapan status tersebut bertujuan mempercepat penanganan darurat serta mempermudah koordinasi antarinstansi dalam proses penanganan di lapangan.
Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat dan instansi terkait saat ini masih melakukan kaji cepat serta pendataan lebih lanjut di lokasi terdampak.
Sementara itu, posko tanggap darurat telah didirikan untuk mengoordinasikan bantuan bagi para penyintas.
Kebutuhan utama pengungsi saat ini meliputi logistik dapur umum, air bersih, perlengkapan bayi dan lansia, serta perlengkapan tidur.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gerakan tanah untuk tetap waspada, terutama saat hujan turun dengan durasi panjang.
Masyarakat juga diminta segera mengikuti arahan evakuasi dari petugas setempat guna menghindari risiko korban jiwa apabila terjadi pergerakan tanah susulan.
Editor: Redaktur TVRINews





