Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews - Jakarta
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga telah menghadiri pemutaran film Antara Mama, Cinta, dan Surga di Arion XXI Mall Arion, Rawamangun, Jakarta Timur. Di mana, kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap perkembangan industri perfilman nasional.
Selain itu, film drama keluarga tersebut berfokus pada konflik emosional yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni pergulatan antara impian pribadi, restu seorang ibu, cinta, serta panggilan iman dalam perjalanan hidup seseorang.
Selain menyajikan cerita keluarga yang kuat, film ini juga menampilkan latar yang memperkenalkan Danau Toba sebagai destinasi wisata nasional dan internasional.
Lamhot menilai film yang memuat nilai keluarga dan spiritualitas memiliki peran penting dalam perkembangan industri kreatif Indonesia.
Tak hanya itu, ia mengatakan bahwa karya sinema yang kuat dari sisi cerita sekaligus mengangkat nilai budaya memiliki peluang besar untuk menarik perhatian publik.
“Film bukan sekadar hiburan, tetapi juga medium pendidikan budaya dan moral. Kita membutuhkan lebih banyak karya film yang mampu menyampaikan pesan kehidupan dengan cara yang menyentuh dan relevan bagi masyarakat,” kata Lamhot kutip Sabtu, 7 Maret 2026
Sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Panitia Kerja (Panja) Perfilman Komisi VII DPR RI, Lamhot melihat industri perfilman nasional memiliki peluang besar untuk berkembang.
Menurutnya, dukungan kebijakan yang tepat dapat memperkuat ekosistem kreatif, mulai dari proses produksi hingga distribusi.
Ia menyebut Komisi VII DPR RI memiliki peran strategis dalam mendorong kebijakan yang berpihak pada pengembangan industri kreatif, termasuk sektor perfilman.
Hal ini juga berkaitan dengan kemitraan DPR dengan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif nasional.
Lamhot menambahkan bahwa film yang mengangkat kekayaan budaya serta keindahan alam Indonesia memiliki nilai lebih bagi bangsa. Selain memperkuat identitas budaya, film juga dapat menjadi sarana promosi pariwisata yang efektif.
Ia menilai banyak negara telah membuktikan bahwa sebuah film mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke lokasi yang menjadi latar cerita. Hal serupa diyakini dapat terjadi di Indonesia apabila semakin banyak sineas yang mengangkat potensi daerah dalam karya mereka.
“Ketika film menampilkan lanskap alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal secara menarik, itu bisa memicu rasa ingin tahu publik untuk datang langsung ke daerah tersebut,” ujarnya.
Menurut Lamhot, dampak ekonomi dari fenomena tersebut tidak hanya berhenti pada sektor pariwisata. Kehadiran wisatawan juga berpotensi menggerakkan berbagai sektor ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sektor kuliner, kerajinan tangan, hingga layanan wisata lokal dapat ikut berkembang seiring meningkatnya kunjungan wisata. Dalam jangka panjang, efek berganda dari industri film dinilai mampu memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Lamhot juga menekankan pentingnya dukungan yang menyeluruh terhadap perfilman nasional. Selain melalui kebijakan pemerintah, kolaborasi antara sineas, pelaku industri, investor, dan masyarakat sebagai penonton dinilai menjadi kunci bagi pertumbuhan industri ini.
Ia mengapresiasi peningkatan kualitas produksi film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Banyak sineas muda dinilai semakin berani mengangkat tema sosial, budaya, hingga spiritualitas dengan pendekatan sinematik yang lebih matang.
Film Antara Mama, Cinta, dan Surga sendiri dinilai sebagai salah satu karya yang menempatkan nilai keluarga sebagai inti cerita. Tema tersebut dianggap sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi hubungan keluarga dan penghormatan kepada orang tua.
Lamhot berharap film-film dengan kekuatan cerita dan pesan moral seperti ini dapat terus berkembang dan mendapatkan dukungan dari masyarakat. Ia menilai keberhasilan film nasional juga sangat dipengaruhi oleh antusiasme publik untuk menontonnya di bioskop.
“Industri film adalah bagian penting dari ekonomi kreatif kita. Jika didukung bersama, bukan hanya sineas yang berkembang, tetapi juga ekonomi daerah dan identitas budaya Indonesia ikut terangkat,” kata Lamhot.
Ia pun mengajak masyarakat untuk semakin bangga terhadap karya-karya film nasional serta menjadikannya sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kreatif Indonesia.
Editor: Redaksi TVRINews





