Ketika Perang Jauh Menentukan Kebijakan Dalam Negeri: Nasib Ekonomi Negara Berkembang di Tengah Konflik Iran vs Israel–Amerika

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

Oleh : Sahade
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar

Konflik geopolitik sering kali dipersepsikan sebagai peristiwa yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun dalam era globalisasi ekonomi, perang di suatu kawasan dapat memengaruhi kebijakan publik di negara lain yang bahkan tidak terlibat dalam konflik tersebut.
Ketegangan antara Iran, Israel, dan dukungan militer dari Amerika Serikat menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik global dapat memaksa negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk menyesuaikan kebijakan ekonominya.

Bagi negara berkembang, konflik internasional bukan hanya persoalan diplomasi atau keamanan global. Dampaknya sering kali langsung terasa pada sektor ekonomi domestik, terutama melalui fluktuasi harga energi, gangguan perdagangan internasional, dan perubahan arus investasi global. Dalam konteks inilah kebijakan publik menjadi instrumen utama bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi masyarakat dari guncangan eksternal.

Salah satu sektor yang paling cepat terpengaruh oleh konflik di Timur Tengah adalah energi. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia dan jalur strategis perdagangan energi, terutama melalui Selat Hormuz. Ketika konflik meningkat, pasar energi global merespons dengan lonjakan harga minyak. Bagi negara berkembang yang masih bergantung pada impor energi, kondisi ini dapat memicu tekanan besar terhadap kebijakan fiskal.

Di Indonesia, kenaikan harga minyak global sering kali memaksa pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan subsidi energi. Subsidi bahan bakar merupakan instrumen kebijakan publik yang dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun ketika harga minyak dunia meningkat drastis, beban subsidi dapat membengkak dan mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk program pembangunan lainnya seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Dilema kebijakan ini menunjukkan bagaimana konflik global dapat memengaruhi prioritas kebijakan domestik. Pemerintah harus memilih antara menjaga stabilitas harga energi atau menjaga kesehatan fiskal negara. Kedua pilihan tersebut memiliki konsekuensi sosial dan politik yang tidak sederhana.

Selain energi, sektor perdagangan juga menghadapi tantangan yang tidak kalah besar. Konflik geopolitik sering kali memicu gangguan pada rantai pasok global. Kenaikan biaya logistik dan ketidakpastian perdagangan dapat berdampak pada harga barang impor dan ekspor. Dalam kondisi seperti ini, kebijakan perdagangan menjadi alat penting bagi negara berkembang untuk menjaga stabilitas pasar domestik.

Pemerintah dapat merespons situasi tersebut melalui berbagai kebijakan publik, seperti diversifikasi sumber impor, penguatan produksi domestik, serta peningkatan cadangan strategis komoditas penting. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar global yang sangat rentan terhadap konflik geopolitik.

Di sisi lain, konflik global juga memengaruhi dinamika investasi internasional. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, investor global cenderung mengalihkan modal mereka ke negara yang dianggap lebih aman. Negara berkembang dengan stabilitas politik dan kebijakan ekonomi yang kredibel dapat memanfaatkan situasi ini untuk menarik investasi baru.

Dalam konteks kebijakan publik, pemerintah perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui reformasi regulasi, peningkatan kualitas infrastruktur, serta kepastian hukum bagi pelaku usaha. Dengan demikian, gejolak geopolitik yang pada awalnya terlihat sebagai ancaman dapat diubah menjadi peluang ekonomi.

Namun yang tidak kalah penting adalah kebijakan jangka panjang dalam bidang energi. Konflik di Timur Tengah menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap energi fosil impor merupakan kerentanan strategis bagi banyak negara berkembang. Oleh karena itu, kebijakan transisi energi menuju sumber energi terbarukan harus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.

Investasi dalam energi surya, angin, dan bioenergi tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga merupakan strategi kebijakan publik untuk meningkatkan kemandirian energi nasional. Negara yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi impor akan lebih tahan terhadap guncangan geopolitik global.

Dalam perspektif kebijakan publik, konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat juga menunjukkan pentingnya pendekatan adaptif dalam pengelolaan ekonomi nasional. Pemerintah tidak hanya dituntut untuk merespons krisis secara reaktif, tetapi juga harus mampu merancang kebijakan yang bersifat antisipatif terhadap berbagai kemungkinan perubahan global.

Bagi Indonesia, strategi kebijakan publik yang berorientasi pada ketahanan ekonomi menjadi sangat penting. Penguatan industri domestik, diversifikasi energi, serta peningkatan nilai tambah sumber daya alam merupakan langkah strategis untuk menghadapi ketidakpastian global.

Pada akhirnya, perang di Timur Tengah mungkin terjadi jauh dari wilayah Indonesia, tetapi dampaknya dapat terasa hingga ke meja kebijakan pemerintah di dalam negeri. Dalam dunia yang saling terhubung, konflik global sering kali berubah menjadi ujian bagi kapasitas kebijakan publik suatu negara.

Oleh karena itu, nasib ekonomi negara berkembang di tengah konflik geopolitik tidak hanya ditentukan oleh dinamika perang itu sendiri, tetapi juga oleh kualitas kebijakan publik yang mampu menjaga stabilitas, melindungi masyarakat, dan mengarahkan pembangunan ekonomi ke arah yang lebih tangguh dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komisi 3: Putusan Majelis Hakim Bebaskan ABK Fandy dari Vonis Mati Harus Jadi Rujukan
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Polisi Ungkap Alasan Langsung Tahan Richard Lee: DRL Menghambat Penyidikan
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Pelatih Arema Evaluasi Performa Pemain Usai Ditumbangkan Bali United
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dampak Perang, Negara Ini Akan Jual Ratusan Ton Emas demi Beli Senjata
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Korban Serangan AS-Israel ke Iran Disebut 30 Persennya Anak-anak
• 4 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.