Bisnis.com, JAKARTA — Para investor disebut tidak memiliki kekhawatiran besar terkait fundamental atau prospek kinerja emiten-emiten perbankan Tanah Air.
Kendati begitu, para investor disebut tengah menyoroti sederet sentimen di sektor perbankan mulai dari public service obligation bank-bank BUMN untuk program pemerintah, kondisi fiskal, dan kebijakan lebih lanjut Morgan Stanley Capital International (MSCI), khususnya kans menurunkan status Indonesia menjadi frontier market.
Jovent Muliadi dan Axel Azriel, analis Indo Premier Sekuritas, menjelaskan sederet faktor tersebut menjadi kekhawatiran para investor dalam rangkaian roadshow baru-baru ini.
“Kami baru saja kembali dari rangkaian roadshow dan cukup terkejut karena investor asing masih sangat bearish terhadap Indonesia. Ada tiga kekhawatiran utama investor: PSO, kapasitas fiskal, dan MSCI,” jelas mereka dalam riset, Sabtu (7/3/2026).
Menurut mereka, PSO bank-bank pelat merah menjadi salah satu kekhawatiran paling umum di antara para investor. Salah satu alasannya, porsi pinjaman PSO yang lebih besar berpotensi menggerus margin bank BUMN serta mengurangi pertumbuhan kredit tambahan ke sektor swasta.
Terkait kondisi fiskal Indonesia, jelas para analis, investor memperkirakan ketidaksesuaian antara penerimaan dan belanja negara dapat semakin melebar pada 2026. Kondisi itu berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan serta mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap valuasi perbankan.
Baca Juga
- Ramai-ramai Bankir Soroti Aturan Wajib Setor Data Kartu Kredit ke DJP
- Aset Bank Mini Kian Susut
- Sustainability Bond Tahap II Bank BJB Raih Respons Positif
“Hal ini juga diperkuat oleh penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dan Fitch baru-baru ini,” jelas Jovent dan Axel.
Terakhir, tambah mereka, sebagian besar investor masih mengkhawatirkan potensi penurunan status Indonesia oleh MSCI menjadi frontier market. Alasannya, sebagian besar mandat investasi mereka berada pada emerging market, sedangkan frontier market hanya mencakup sekitar 1%–2% dari dana kelolaan mereka di emerging market.
“Meski demikian, sebagian investor juga menilai OJK dan BEI telah mengambil langkah positif untuk menjawab kekhawatiran MSCI tersebut,” ungkapnya.
----------------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





