Pantau - Penyelenggaraan Festival Nyepi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, dinilai menjadi upaya memperkuat toleransi antarumat beragama di tengah keberagaman masyarakat Jakarta.
Festival tersebut merupakan hasil kerja sama antara Suka Duka Hindu Dharma Jakarta Raya dan Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi DKI Jakarta.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.
"Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat harmoni dan toleransi antar-umat beragama di tengah keberagaman masyarakat Jakarta", ungkapnya.
Parade Budaya dan Ogoh-OgohDalam kegiatan tersebut ditampilkan berbagai pertunjukan budaya, termasuk parade budaya serta pawai ogoh-ogoh untuk menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Rano Karno hadir dalam acara tersebut bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Ia menjelaskan tradisi ogoh-ogoh yang diarak dari kawasan Monumen Nasional menuju Bundaran HI tidak hanya memiliki makna spiritual tetapi juga nilai budaya yang kuat.
"Dalam pawai budaya ini kurang lebih 2.000 peserta terlibat dengan menampilkan sekitar 13 hingga 15 ogoh-ogoh yang diarak dalam rangkaian parade budaya. Ogoh-ogoh merupakan bagian dari tradisi menjelang Nyepi yang melambangkan sifat-sifat negatif dalam diri manusia yang perlu disucikan", ujarnya.
Dorong Harmoni di Tengah KeberagamanRano Karno berharap festival tersebut dapat menjadi hiburan bagi masyarakat Jakarta yang menyaksikannya.
Selain itu kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk saling menghormati keberagaman budaya.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu yang merayakan Hari Raya Nyepi.
"Kami mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Nyepi kepada umat Hindu di Jakarta maupun di seluruh Indonesia. Semoga perayaan ini membawa kedamaian, menjadi momentum refleksi diri, serta mampu memperkuat persatuan di Jakarta", katanya.




