Trump Klaim Iran Menyerah, Begini Fakta Aslinya Menurut Guru Besar Uhamka

medcom.id
21 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Pernyataan  Donald Trump dalam unggahan di platform Truth Social, yang menyebut Iran sebagai "The Loser of the Middle East" dan menggambarkan Iran sudah "menyerah" kepada negara-negara tetangganya, tidak menganggambarkan situasi geopolitik yang sedang terjadi.  Guru Besar Uhamka, Emaridial Ulza menyebut pernyataan tersebut tidak lebih dari sekadar retorika politik dan bukan gambaran nyata dari Timur Tengah saat pertempuran berkecamuk.  
 
"Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis” ujar Emaridial Ulza dalam siaran persnya, dikutip Minggu, 8 Maret 2026  
 
Pernyataan Donald Trump mengatakan Iran “telah meminta maaf dan menyerah” kepada negara  tetangga setelah serangan AS dan Israel, dan bahkan menyebut bahwa Iran bukanlah Pengganggu Timur Tengah. Melainkan Pecundang Timur Tengah. Serta memberikan ancaman  Iran akan menghadapi "pukulan sangat keras,", membuka kemungkinan penargetan wilayah atau kelompok yang sebelumnya tidak masuk dalam target.

Menurut Emaridial pernyataan tersebut  penuh kontradiksi yang menunjukan bahwa situasi di lapangan dalam agenda perang  kemungkinan sangat kompleks dan Amerika dalam keadaan terdesak.  Ia juga menambahkan, dalam banyak situasi perang atau konflik internasional deklarasi kemenangan sepihak biasanya digunakan sebagai bagian dari strategi negosiasi untuk membangun opini publik. 
 
Pola ini sudah berulang kali terlihat: dari negosiasi dagang dengan Tiongkok, krisis Korea Utara, hingga konflik-konflik sebelumnya di kawasan yang sama. Klaim bahwa Iran “telah menyerah” hampir pasti merupakan framing untuk konsumsi domestik membangun narasi triumfalis yang ia butuhkan untuk rakyatnya dan juga dunia, bukan deskripsi akurat atas kondisi di lapangan.
 
“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam banyak kasus sejarah, retorika semacam ini justru dapat memperpanjang siklus eskalasi konflik, Apalagi ditambah dengan tidak ikut sertanya negara sekutu seperti UK atau juga Spanyol menyusul Jerman yang tidak akan terlibat langsung dalam perang ini memperkuat bahwa Trump butuh negosiasi,” kata Emaridial.
 
Amerika Terdesak begitu juga Iran perlu ada penengah dan Indonesia bisa menjadi bagian penting dengan menggalang pertemuan melalui OKI atau juga dengan negara  Timur Tengah lain sebagai salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. 
 
Indonesia dalam posisi berada di Board of Peace bentukan Trump dan juga Indonesia bagian dari BRICS bisa menjadi penghubung walaupun tidak secara langsung minimal niat baik Presiden Prabowo sedikit mengurangi keteganggan dengan segala konsekuensi yang didapatkan. 
  Baca juga:  Kenapa Selat Hormuz Penting Banget? Kenalan Yuk Sama 8 Negara di Sekitarnya

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Awak WNI Dilaporkan Masih Hilang dalam Ledakan Kapal Tug Boat Musaffah 2 di Selat Hormuz
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Duel Pelatih PSBS Vs Semen Padang di BRI Super League: Marian Mihail Hadapi Arsitek Lokal Imran Nahumarury
• 1 jam lalubola.com
thumb
Soal Percepatan Penerbitan Perhutanan Sosial, Menhut: Itu Arahan Presiden Prabowo
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Integritas vs Tekanan Loyalitas Politik: Dilema Sunyi Menguji Nyali Birokrasi
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Segmen Properti Ini Paling Rentan Terdampak Konflik AS vs Iran
• 13 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.