Segmen Properti Ini Paling Rentan Terdampak Konflik AS vs Iran

idxchannel.com
15 jam lalu
Cover Berita

Setidaknya ada beberapa segmen properti yang dinilai lebih sensitif atau rentan terhadap kondisi saat ini.

Segmen Properti Ini Paling Rentan Terdampak Konflik AS vs Iran. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Sektor properti dinilai cukup sangat terdampak imbas adanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Namun, dampaknya lebih bersifat tidak langsung melalui beberapa jalur transmisi makroekonomi.

Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, setidaknya ada beberapa segmen properti yang dinilai lebih sensitif atau rentan terhadap kondisi saat ini.

Baca Juga:
Rumah Tipe Kecil dan Menengah Dongkrak Penjualan Properti di Triwulan IV-2025

Pertama, apartemen kelas menengah atas yang banyak dibeli investor. Selanjutnya, properti yang pembeliannya bersifat spekulatif.

"Kemudian, pengembang dengan leverage tinggi (menggunakan utang dalam porsi besar dibandingkan modal sendiri (equity) untuk membiayai proyeknya, dan hotel berbasis MICE dan pusat perbelanjaan yang sangat bergantung pada konsumsi dan aktivitas bisnis," ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (8/3/2026).

Baca Juga:
Aktivitas Korporasi Menguat, Pasar Properti Jakarta Diproyeksi Bangkit

Selain itu, kata Ferry, segmen menengah ke bawah juga relatif rentan. Sebab, sangat sensitif terhadap kenaikan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan inflasi kebutuhan pokok.

Baca Juga:
Saham Properti Dinilai Masih Menarik, Selektif di Segmen High-End

Sementara itu, rumah tapak yang dibeli untuk kebutuhan hunian (end-user driven) relatif lebih resilien karena permintaannya berbasis kebutuhan dasar, bukan spekulasi.

Lebih lanjut, Ferry mengungkapkan, kawasan industri berbasis aktivitas manufaktur riil juga cenderung lebih stabil. "Terutama jika didukung investasi jangka panjang, meskipun tetap dipengaruhi kondisi permintaan global," katanya.

Ferry juga menuturkan, secara umum, pasar properti cenderung melalui tiga fase saat menghadapi tekanan eksternal.

Pertama, fase terkejut dan wait and see, di mana transaksi melambat sementara. Fase kedua yakni selektivitas tinggi yakni hanya proyek premium dengan lokasi strategis dan harga realistis yang tetap bergerak.

"Ketiga, fase normalisasi, di mana pasar kembali rasional apabila situasi global mereda," kata Ferry.

Menurutnya, jika konflik tidak berkembang menjadi krisis energi global berkepanjangan, dampaknya cenderung moderat dan temporer.

"Namun apabila terjadi lonjakan harga energi yang signifikan dan tekanan inflasi meningkat tajam, efek terhadap daya beli dan pembiayaan properti bisa lebih terasa," ujarnya.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Buka Puasa Kota Bekasi Hari Ini 8 Maret 2026
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Terpopuler: Pelatih Fred Grim Bereaksi Usai Maarten Paes Sentil Keras Ajax, 7 Pemain Naturalisasi Bodong Tak Bela Timnas
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Puluhan Mahasiswa Makassar Antusias Ikuti Campus Community Batch 1
• 51 menit laluterkini.id
thumb
Pimpin Timnas Indonesia U-17 di Piala AFF U-17 2026, Kurniawan Dwi Yulianto Ditantang Lampaui Pencapaian Nova Arianto
• 12 jam lalubola.com
thumb
⁠Perang AS-Israel vs Iran Merembet ke Infrastruktur Energi dan Air
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.