Di Balik Catatan Berita: Makna Hari Perempuan Sedunia bagi Jurnalis Echa Panrita Lopi

terkini.id
1 hari lalu
Cover Berita

Terkini, Makassar – Di balik setiap berita yang terbit, ada proses panjang mencari fakta, mendengar cerita, dan merangkai suara-suara yang sering kali luput dari perhatian.

Bagi jurnalis, pekerjaan itu bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan bahwa setiap cerita yang penting mendapat ruang untuk didengar.

Bagi Echa Panrita Lopi, Hari Perempuan Sedunia memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar peringatan tahunan.

Momentum ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana perempuan hadir dalam berbagai sisi kehidupan sering kali kuat, tangguh, dan menggerakkan perubahan, meski kisah mereka tidak selalu muncul di halaman utama.

Sebagai jurnalis, perempuan kelahiran Kecamatan Kajang Bulukumba ini mengaku kerap menemukan cerita-cerita perempuan yang diam-diam menjadi penggerak di lingkungannya.

Ada ibu rumah tangga yang berjuang menjaga ekonomi keluarga, perempuan di desa yang aktif menggerakkan kegiatan sosial, hingga mereka yang menembus ruang-ruang profesional yang dulu didominasi laki-laki. Cerita-cerita itu, menurutnya, sering kali sederhana, namun memiliki makna besar bagi kehidupan masyarakat.

“Hari Perempuan Sedunia bagi saya adalah pengingat bahwa jurnalisme memiliki peran penting untuk menghadirkan perspektif perempuan dalam setiap cerita. Banyak kisah tentang keberanian, ketangguhan, dan perjuangan perempuan yang sering luput dari perhatian,” ujar Humas Kerukunan Masyarakat Bulukumba tersebut.

Pengalaman di lapangan membuat Echa semakin menyadari bahwa perempuan bukan sekadar objek dalam sebuah pemberitaan. Mereka adalah subjek yang memiliki pandangan, gagasan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Karena itu, ia percaya jurnalisme memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan suara perempuan tidak hanya hadir sebagai pelengkap, tetapi menjadi bagian penting dalam narasi tentang pembangunan dan perubahan sosial.

Menurutnya, menghadirkan ruang yang lebih setara dalam pemberitaan bisa dimulai dari langkah sederhana: memberi ruang yang adil bagi narasumber perempuan, mengangkat isu-isu yang menyentuh kehidupan mereka, serta menghadirkan sudut pandang yang lebih inklusif dalam setiap tulisan.

“Perempuan bukan hanya objek cerita. Mereka adalah subjek yang memiliki gagasan, keberanian, dan kontribusi besar bagi masyarakat,” kata member Komunitas Jurnalis Berhijab Indonesia ini.

Bagi Echa, menulis berita tidak sekadar merangkai kata. Setiap tulisan adalah jembatan yang dapat membuka pemahaman, menghubungkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan, dan menghadirkan harapan akan perubahan.

“Karena pada akhirnya, di balik setiap berita selalu ada manusia dan cerita yang layak diperjuangkan. Dan dalam banyak hal, cerita-cerita itu adalah kisah tentang perempuan yang dengan caranya sendiri terus menggerakkan kehidupan,” tandas peraih penghargaan Inspiring Women Bidang Jurnalistik dari Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Main Medsos, Pemerintah Siapkan Generasi Emas di Era Digital
• 12 jam laluokezone.com
thumb
LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai Ditargetkan Beroperasi Agustus 2026
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Kementerian Pariwisata Perkuat Kolaborasi untuk Revalidasi Geopark Indonesia oleh UNESCO
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Kondisi Terkini Gedung Ombudsman RI yang Digeledah Kejagung
• 12 jam laludetik.com
thumb
LSAK Dorong Komisi Yudisial Awasi Sidang Praperadilan Yaqut Cholil Qoumas di PN Jakarta Selatan
• 22 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.