EtIndonesia. Menurut laporan The Epoch Times, pada Jumat (6 Maret), pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa sistem pertahanan buatan AS “Merops”, yang telah terbukti efektif melawan drone Rusia di medan perang Ukraina, akan segera dikerahkan ke Timur Tengah untuk memperkuat kemampuan pertahanan militer AS terhadap drone Iran.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga mengonfirmasi hal tersebut melalui platform X. Ia mengatakan bahwa Ukraina telah menerima permintaan resmi dari Amerika Serikat dan beberapa negara Timur Tengah untuk mengirim pakar serta peralatan militer guna membantu di lapangan.
Menurut Zelenskyy, operasi tersebut diperkirakan akan dimulai dalam beberapa hari ke depan.
Menggunakan Drone untuk Melawan Drone “Shahed”Dua pejabat AS mengatakan kepada Associated Press bahwa sistem Merops menggunakan teknologi “drone melawan drone” untuk mencegat target.
Sistem ini berukuran relatif kecil dan dapat dipasang di bagian belakang truk pickup ukuran menengah. Drone pencegatnya mampu mengidentifikasi target dan secara aktif menabraknya untuk menghancurkan drone musuh.
Keunggulan utamanya adalah integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Bahkan ketika GPS atau komunikasi elektronik terganggu oleh perang elektronik musuh, sistem ini masih dapat bernavigasi secara mandiri dan menghantam target secara akurat.
Pejabat Departemen Perang AS mengatakan bahwa kemampuan pertahanan terhadap drone di Timur Tengah saat ini masih terbatas, sementara drone bunuh diri “Shahed” milik Iran termasuk dalam seri yang sama dengan drone yang digunakan Rusia di Ukraina.
Karena itu, pengalaman tempur Ukraina dalam menghadapi drone tersebut dianggap sangat berharga.
Rudal Patriot Terlalu Mahal untuk Menjatuhkan Drone MurahSaat ini, banyak sekutu AS di Timur Tengah masih mengandalkan sistem rudal Patriot atau THAAD untuk mencegat ancaman udara.
Namun, biaya satu rudal bisa mencapai jutaan dolar, sedangkan harga drone Iran sering kali kurang dari 50.000 dolar. Menggunakan rudal mahal untuk menembak jatuh drone murah dinilai sangat tidak efisien.
Seorang pejabat pertahanan mengatakan bahwa sistem Merops akan ditempatkan di beberapa lokasi di Timur Tengah, termasuk di wilayah yang tidak memiliki pangkalan militer AS.
Sebagian besar sistem tersebut akan dipasok langsung oleh perusahaan pertahanan AS Perennial Autonomy, yang didukung oleh mantan CEO Google Eric Schmidt, sehingga tidak akan mempengaruhi penempatan pertahanan di Eropa.
Drone Melawan Drone untuk Mengurangi Biaya PertahananLaporan tersebut juga menyebutkan bahwa drone Iran sulit dideteksi oleh radar tradisional, karena radar biasanya dirancang untuk mendeteksi rudal berkecepatan tinggi.
Drone juga kadang keliru diidentifikasi sebagai burung atau pesawat biasa. Sistem Merops dirancang khusus untuk mendeteksi dan menghancurkan drone tersebut.
Anggota Partai Demokrat senior di Komite Intelijen DPR AS, Jim Himes, mengatakan minggu ini : “Kami cukup ahli dalam menembak jatuh rudal. Tantangan yang lebih besar bagi kami adalah persediaan drone Iran yang sangat banyak—sulit dideteksi dan sulit ditembak jatuh.”
Ia menambahkan bahwa serangan drone menciptakan “masalah matematika”: “Menggunakan rudal mahal untuk menembak drone murah itu terlalu mahal.”
Presiden dan CEO organisasi industri drone AUVSI, Michael Robbins, mengatakan pengalaman di Timur Tengah dan Ukraina menunjukkan bahwa Amerika Serikat harus mempercepat penerapan teknologi anti-drone canggih.
Menurutnya, dengan teknologi ini : “Pasukan kita dapat melindungi pangkalan dan warga tanpa harus menghabiskan satu juta dolar untuk menghentikan ancaman senilai 50.000 dolar.”
Ukraina Tawarkan Kerja Sama PertahananBaru-baru ini, Zelenskyy telah berbicara dengan para pemimpin Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait untuk membahas kerja sama pertahanan.
Pada Selasa, Zelenskyy juga mengajukan proposal agar Ukraina menyediakan drone pencegat, sebagai imbalan atas rudal Patriot yang sangat dibutuhkan Ukraina dari persediaan negara-negara Timur Tengah untuk menghadapi ancaman rudal balistik Rusia.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan bantuan Ukraina, Presiden AS Donald Trump mengatakan: “Tentu saja. Saya akan menerima bantuan dalam bentuk apa pun dari negara mana pun.” (hui)




