3 warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan hilang setelah kapal tug boat Musaffah 2 tenggelam di Selat Hormuz.
Salah satu korban adalah warga Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Miswar Paturusi—yang menjabat sebagai kapten kapal milik perusahaan Abu Dhabi Port tersebut.
Pihak keluarga mendapat kabar insiden ini dari rekan kerja korban pada Jumat (6/3) sekitar pukul 10.00 WITA.
Tulang Punggung Keluarga, 26 Tahun Mengabdi di Dunia PelayaranSepupu korban, Sumarlin Ahmad, menggambarkan Miswar sebagai sosok kepala keluarga yang selama ini menjadi tumpuan bagi orang-orang di sekitarnya.
"Beliau adalah kepala keluarga dengan satu orang istri dan dua orang anak. Selain menafkahi keluarganya, beliau juga membantu menyekolahkan anak-anak dari sepupu dan keponakannya," kata Sumarlin kepada wartawan, Minggu (8/3).
Istri korban bernama Marliani Ahmad, sementara kedua anaknya adalah Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar.
Anak pertama Miswar bahkan telah mengikuti jejak pengabdian kepada negara—resmi menjadi anggota Polri sejak tahun lalu dan bertugas di Polda Sulawesi Selatan.
Miswar sendiri telah lama berkecimpung di dunia pelayaran. Menurut Sumarlin, ia diperkirakan telah menekuni profesi tersebut selama lebih dari dua dekade.
"Setahu saya sekitar 26 tahun beliau bekerja di dunia pelayaran. Sejak menikah sudah berlayar, bahkan sebelum menikah pun sudah," ujarnya.
Miswar berangkat berlayar sejak 18 Februari 2026. Selama ini, ia dikenal bekerja sebagai pemandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke Pelabuhan Abu Dhabi. Pelayaran menuju Selat Hormuz kali ini diduga menjadi perjalanan yang jauh lebih panjang dibanding rutinitas kerjanya sehari-hari.
Dugaan Kapal Terkena Ranjau LautBerdasarkan informasi awal yang diterima keluarga, kapal yang dinakhodai Miswar diduga mengalami insiden di tengah pelayaran. Kabar tersebut disampaikan oleh rekan korban, Kapten Ismail, yang menghubungi keluarga pada Jumat (6/3) pagi.
"Informasi awal yang kami terima, kapal yang dinakhodai beliau terkena ranjau laut," kata Sumarlin.
Hingga kini, keluarga masih menerima berbagai versi informasi mengenai kejadian tersebut. Ada yang menyebut kapal Musaffah 2 sedang dalam perjalanan menuju Pelabuhan Abu Dhabi untuk proses evakuasi, sementara versi lain menyebut kapal itu hendak menjalani perbaikan setelah mengalami kerusakan.
Dalam pelayaran tersebut, dua kapal dilaporkan berangkat bersama, yakni Musaffah 2 dan Musaffah 1. Kapal yang dinakhodai Miswar disebut berangkat lebih dulu.
"Musaffah 2 berangkat lebih dulu. Kapal yang satunya belum sampai ke lokasi, mungkin sudah dapat informasi bahwa Musaffah 2 hilang kontak," ujar Sumarlin.
Gangguan GPS Sebelum Hilang KontakSebelum komunikasi terputus, Miswar sempat menyampaikan kepada rekan-rekannya bahwa kapal yang dipimpinnya mengalami gangguan pada sistem navigasi.
"Beberapa kali beliau menyampaikan bahwa sistem GPS di kapalnya mengalami eror. Bahkan sempat mengatakan melihat sesuatu dan meminta dipandu, tapi ternyata tidak ada," kata Sumarlin.
Tak lama setelah itu, komunikasi dengan kapal terputus sepenuhnya.
KBRI Mulai Bergerak, Keluarga Nantikan KepastianKeluarga mengaku hingga saat ini belum menerima keterangan resmi secara tertulis dari pihak perusahaan. Informasi masih disampaikan secara lisan melalui rekan korban yang menjadi perantara.
Namun, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) disebut telah mulai menghubungi keluarga untuk mengumpulkan data.
"Tadi ada dari pihak KBRI yang menelepon, menanyakan alamat lengkap keluarga. Mereka bilang akan menyampaikan jika ada perkembangan informasi dari sana," ujar Sumarlin.
Kini, rumah Kapten Miswar Paturusi di Kelurahan Pattedong ramai dikunjungi rekan-rekan sejawatnya sejak Sabtu (7/3) sore hingga Minggu (8/3).
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyebut insiden kapal Musaffah 2 terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat di perairan antara Persatuan Emirat Arab (PEA) dan Oman.
Kapal berbendera PEA itu dilaporkan mengalami ledakan sebelum akhirnya terbakar dan tenggelam.




