Jakarta, CNBC Indonesia — China mulai menghadapi populasi menua, seperti yang telah dihadapi oleh negara Asia Timur lainnya seperti Jepang. China yang menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak nomor dua di dunia ini pun harus menelan pil pahit yakni sulitnya regenerasi penduduk.
Jumlah penduduk China terancam karena angka pernikahan mulai mengalami penurunan. Tidak hanya itu, usia penduduk yang ada saat ini, semakin menua.
Padahal, pemerintah China sudah menggencarkan program pro-natalis, hanya saja belum mendapat respons baik dari masyarakat. Pro-natalie adalah rangkaian kebijakan pemerintah untuk meningkatkan angka kelahiran dan pertumbuhan populasi.
Pada 1950, hampir seperempat populasi China (24,5%) berusia 0-9 tahun. Pada 2024, angka tersebut turun menjadi hanya 9,9%, dan pada 2100, diproyeksikan menyusut menjadi 5%. Sementara itu, populasi berusia 80 tahun ke atas diperkirakan akan melonjak.
Pada pertengahan abad ke-20, China adalah negara muda. Tingkat kesuburan yang tinggi, melebihi enam kelahiran per wanita pada 1950-an, menghasilkan piramida penduduk yang lebar.
Pemberlakuan kebijakan satu anak pada 1980 secara tiba-tiba mengubah arah demografi negara tersebut. Bertujuan untuk mengekang pertumbuhan penduduk yang tak terkendali, kebijakan ini justru mempercepat penurunan angka kelahiran jauh di bawah tingkat penggantian populasi, yaitu 2,1 anak per wanita.
Bahkan setelah kebijakan tersebut dicabut pada 2015, angka kelahiran terus menurun. Populasi China menurun untuk tahun ketiga berturut-turut pada 2025, dengan angka kelahiran baru mencapai titik terendah sepanjang sejarah.
Berbeda dengan banyak negara ekonomi Barat, tingkat kesuburan di China turun ke level yang sangat rendah sebelum negara tersebut sepenuhnya berkembang. Ini berarti negara tersebut mengalami penuaan penduduk yang cepat tanpa adanya bantalan kekayaan per kapita yang sama seperti yang terlihat di tempat-tempat seperti Jepang atau Jerman.
Pada 2100, proyeksi menunjukkan bahwa hampir 40% populasi China akan berusia 60 tahun atau lebih. Populasi usia kerja akan menyusut, sementara jumlah pensiunan akan meningkat, sebuah dinamika yang menimbulkan kekhawatiran tentang kekurangan tenaga kerja, keberlanjutan dana pensiun, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China telah meluncurkan subsidi untuk orang tua, keringanan pajak, insentif perumahan, dan bahkan membingkai kelahiran anak sebagai "kewajiban nasional".
Namun sejauh ini, insentif finansial masih kesulitan mengatasi kekuatan struktural seperti tingginya biaya perumahan, persaingan pendidikan, urbanisasi, dan perubahan norma sosial.
Masih belum pasti apakah China mampu mengubah arah demografisnya secara signifikan. Namun, yang jelas dari data tersebut adalah struktur usia negara itu pada 2100 akan sangat berbeda dari negara yang didominasi kaum muda pada 1950 silam.
(chd/chd) Add as a preferredsource on Google




