Liputan6.com, Jakarta - Akademisi, Dosen Hubungan Internasional Binus University Tia Mariatul Kibtiah menyoroti ancaman krisis ekonomi akibat eskalasi di Selat Hormuz. Menurut dia, hal itu akan berdampak kepada Indonesia sebagai dampak Konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel di Timur Tengah.
"Hal itu disebabkan tingginya ketergantungan impor minyak Indonesia di tengah cadangan nasional yang hanya tersisa untuk 20 hari dan minimnya kapasitas mitigasi domestik," ujar Tia dalam webinar bertajuk Dampak Konflik Iran dan Israel-AS Terhadap Dinamika Keamanan Indonesia yang digagas oleh IFORSTRA (Institute for Strategic Transformation) seperti dikutip Minggu (8/3/2026).
Advertisement
Tia menambahkan, di ranah diplomasi, langkah Indonesia menghadapi hambatan usai Iran menolak tawaran mediasi sekaligus mengkritik keputusan Indonesia bergabung dengan blok board of peace (BoP).
"Rentetan eskalasi ini turut memicu kerawanan sosial di dalam negeri, ditandai dengan penetapan status siaga tiga oleh TNI guna mengantisipasi kemungkinan demonstrasi massal," tambah dia.
Melanjutkan hal tersebut, Dosen Ketahanan Nasional SPPB UI dan Pengamat Timur Tengah M. Syaroni Rofii menganalisis konflik tersebut sebagai perang asimetris.
Alasannya, kata dia, kekuatan militer dan nuklir Amerika Serikat-Israel berhadapan langsung dengan keunggulan teknologi drone Iran dalam sebuah konflik yang ditengarai bertujuan mendorong perubahan rezim.
"Ketegangan makro ini dipastikan akan menekan pasokan BBM nasional dan berdampak langsung pada kelangsungan sektor usaha mikro. Di tengah minimnya peran PBB serta sikap China dan Rusia yang memilih memantau dari kejauhan," kata Syaroni dalam diskusi senada.




