Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Mengapa terjadi kelangkaan BBM di Sumut?
2. Bagaimana dampak kelangkaan BBM di Sumut?
3. Bagaimana respons Pertamina dan pemerintah terkait kelangkaan BBM di Sumut?
4. Apakah kelangkaan BBM di Sumut juga berpotensi terjadi di wilayah lain?
Selama beberapa hari terakhir, terjadi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Pada Jumat (6/3/2026), antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di Kota Medan, Sumut. Warga rela mengantre lebih dari satu jam karena khawatir bakal terjadi kelangkaan stok BBM akibat perang Timur Tengah.
Berdasarkan pantauan Kompas, hingga Minggu (8/3/2026), kelangkaan BBM masih terjadi di sejumlah SPBU di Kota Medan, Deli Serdang, Binjai, dan Langkat. Beberapa SPBU kehabisan stok BBM jenis Biosolar, Pertalite, dan Pertamax. Antrean juga masih mengular di sejumlah SPBU yang mempunyai stok BBM. Namun, di beberapa SPBU di dalam kota, antrean sudah mulai berkurang.
Di SPBU Jalan Sudirman, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, para sopir truk menunggu meskipun BBM jenis Biosolar belum masuk ke SPBU itu. ”Kami mendapat informasi dari SPBU, Biosolar akan masuk. Daripada berkeliling-keliling mencari Biosolar, kami memilih menunggu di SPBU ini saja,” kata Mangatur Pasaribu (40), sopir truk.
Pengendara sepeda motor dan mobil juga memilih menunggu di SPBU tersebut meskipun pasokan BBM belum masuk. ”Sudah tiga hari saya mencari bensin ke sejumlah SPBU, tetapi enggak dapat-dapat. Indikator bahan bakar di mobil sudah kedip-kedip, makanya saya memilih menunggu di SPBU ini saja,” kata salah seorang warga, Paido (35).
Salah seorang sopir truk di Sumut, Yudi Mangon (35), menyebut, kelangkaan Biosolar tidak terjadi hanya karena panic buying akibat kekhawatiran akan kelangkaan BBM sebagai dampak dari perang Iran dengan Amerika Serikat-Israel. ”Memang Biosolar sudah langka dalam beberapa minggu terakhir, khususnya di jalan lintas Sumatera, Medan, dan Deli Serdang,” katanya.
Kelangkaan BBM di Sumut menyebabkan warga harus mengantre selama berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. Abyadi Siregar, warga Medan, mengatakan, kelangkaan BBM sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Pada Sabtu (7/3/2026), Abyadi mengantre selama dua jam di salah satu SPBU karena mobilnya sudah kehabisan bahan bakar.
Namun, antrean di depannya belum bergerak karena BBM di SPBU itu belum tersedia. Alhasil, Abyadi tak bisa berangkat ke kantor. ”Saya mendapat informasi, BBM akan masuk ke SPBU ini, makanya masih tetap menunggu di sini daripada keliling lagi mencari minyak. Tapi, sudah beberapa jam saya menunggu, antreannya belum bergerak juga,” ujarnya.
Mangatur Pasaribu (40), sopir truk di Sumut, mengatakan, dirinya sehari-hari mengangkut makanan olahan, seperti roti dan jajanan anak, dari Medan ke sejumlah daerah di Sumut, Sumatera Barat, dan Riau. Namun, sudah tiga hari dia tidak bisa mengantar barang ke luar kota karena tidak ada BBM.
Hal sama dialami sopir truk lainnya, Yudi Mangon (35). Yudi seharusnya mengantar barang-barang perabotan rumah tangga dari Medan ke Aceh. Namun, sudah tiga hari dia tidak bekerja karena tidak ada BBM. Beberapa rekannya tertahan di Aceh dan belum bisa pulang ke gudang mereka di Sumut.
Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, pihaknya terus memastikan ketersediaan pasokan BBM di Sumut. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari menambah stok, menguatkan sarana distribusi, hingga melakukan koordinasi aktif dengan pihak terkait.
Pertamina mengimbau masyarakat tidak perlu beli panik alias panic buying dalam mengisi bahan bakar minyak. Pertamina memastikan stok dan suplai bahan bakar minyak di wilayah Sumbagut aman selama Ramadhan dan Idul Fitri.
”Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying karena pasokan energi terus kami jaga agar tetap tersedia dan tersalurkan dengan baik,” kata Fahrougi.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kota Medan Citra Effendi Capah meminta masyarakat membeli BBM secara normal supaya tidak timbul antrean panjang di SPBU. Dia menyebut, situasi sekarang berbeda dengan saat bencana banjir bandang pada akhir November 2025 yang membuat suplai BBM tersendat.
”Stok aman. Isu yang berkembang (soal kelangkaan BBM akibat perang AS-Israel vs Iran) tidak benar,” kata Effendi.
Pemerintah bersama Pertamina dan pihak terkait terus berupaya memastikan kecukupan stok BBM agar tidak terjadi kelangkaan seperti di Sumut. Pemerintah pun mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat dan negara lain menyusul memanasnya konflik di kawasan Teluk yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.
”Indonesia memang mengimpor crude (minyak mentah) dari Timur Tengah yang melewati jalur itu (Selat Hormuz), tetapi porsinya hanya 20-25 persen dari total impor kita,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Adapun sisa kebutuhan minyak mentah Indonesia, kata Bahlil, dipasok dari sejumlah negara di Afrika, seperti Angola, serta dari Amerika Serikat dan Brasil. Untuk BBM jenis bensin RON 90, 93, 95, dan 98, impor selama ini tidak berasal dari Timur Tengah, tetapi dari kawasan Asia Tenggara sehingga relatif tidak terdampak.
Meski begitu, pemerintah menyiapkan skenario terburuk apabila ketegangan berlangsung lama. Sebanyak 25 persen impor minyak mentah dari Timur Tengah akan dialihkan ke AS untuk menjamin kepastian pasokan.





