Jakarta, CNBC Indonesia — Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah serangan balasan Iran menghantam sejumlah negara Teluk pada akhir pekan. Serangan ini disebut sebagai respons terhadap serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan ancaman rudal dan drone dari Iran yang mengarah ke wilayahnya. Kementerian Pertahanan UEA mengatakan sistem pertahanan udara mereka saat ini sedang merespons berbagai ancaman tersebut.
"Sistem pertahanan udara UEA saat ini sedang merespons ancaman rudal dan drone yang datang dari Iran," kata Kementerian Pertahanan negara itu dalam sebuah unggahan di X, dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (8/3/2026).
Menurut pemerintah UEA, sistem pertahanan berhasil mencegat sejumlah rudal balistik. Sementara itu, jet tempur dikerahkan untuk menghadapi drone dan amunisi udara lainnya.
Situasi mencekam sempat terjadi pada Sabtu (7/3) malam ketika alarm peringatan rudal berbunyi di berbagai wilayah Dubai dan Abu Dhabi. Warga diminta segera mencari tempat perlindungan.
Ledakan keras juga terdengar di beberapa wilayah. Sebuah gedung tinggi di kawasan Dubai Marina, 23 Marina, dilaporkan terkena puing-puing yang jatuh dari proses pencegatan rudal.
Otoritas setempat memastikan tidak ada korban luka dari insiden tersebut. Namun puing-puing lain yang jatuh di wilayah Al Barsha menimpa sebuah kendaraan dan menewaskan seorang sopir asal Pakistan.
Di Bandara Internasional Dubai, para penumpang yang menunggu penerbangan sempat diarahkan menuju terowongan kereta untuk menghindari ancaman serangan.
Di tengah eskalasi konflik, Iran mengumumkan perkembangan besar di dalam negeri.
Kantor berita Mehr Iran mengutip Ayatollah Seyyed Ahmad Alam al-Huda, melaporkan seorang pemimpin baru telah ditunjuk oleh Majelis Ulama Iran. Namun hingga kini nama pemimpin tersebut belum diumumkan ke publik.
"Semua rumor dan berita yang mencoba menggambarkan bahwa Majelis Ulama belum membuat keputusan adalah kebohongan semata," kata al-Huda.
Sementara itu, dua ulama berpengaruh di Iran sebelumnya juga mendesak agar pemimpin baru segera ditetapkan demi menjaga stabilitas pemerintahan.
Di sisi lain, militer Israel (IDF) memperingatkan akan menargetkan siapa pun yang terlibat dalam proses penunjukan pemimpin baru Iran.
"Kami memperingatkan semua pihak yang berniat berpartisipasi dalam pertemuan pemilihan penerus bahwa kami juga tidak akan ragu untuk menargetkan Anda. Ini adalah peringatan!" kata IDF dalam unggahan berbahasa Persia di X.
Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan Washington seharusnya memiliki peran dalam menentukan pemimpin baru Iran. Namun pernyataan tersebut langsung ditolak oleh pemerintah Iran.
(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google




