Jakarta, CNBC Indonesia — Maret 2026 mulai memasuki pekan kedua, di mana pelaku pasar dan investor akan dihadapkan pada jadwal rilis data makroekonomi yang padat, baik dari bursa domestik maupun global.
Data-data yang dijadwalkan rilis pada pekan ini memiliki peran krusial sebagai leading indicator untuk menilai arah kebijakan moneter bank sentral, prospek pertumbuhan ekonomi, serta pergerakan arus modal lintas batas.
Perhatian utama akan tertuju pada rilis data inflasi dari Amerika Serikat (AS), inflasi China, data perdagangan China, data perekonomian lainnya, dan perkembangan ketegangan di Timur Tengah.
1. Inflasi Amerika Serikat (AS)
Pada pekan depan, yakni tepatnya pada Rabu (11/3/2026) malam waktu Indonesia, AS akan merilis data inflasi untuk periode Februari 2026.
Pada Januari 2026, inflasi umum AS tercatat naik 0,2%, di bawah ekspektasi ekonom sebesar 0,3%. Angka ini juga lebih rendah dari inflasi 0,3% untuk periode Desember 2025.
Konsensus pasar dalam Trading Economics memperkirakan inflasi bulanan AS pada Februari 2026 mencapai 0,2%, tidak jauh berubah dari Januari 2026 yang mencapai 0,2%.
Hal itu menunjukkan adanya sedikit penurunan tekanan harga sebelum pecahnya perang di Iran yang menimbulkan ketidakpastian baru tentang prospek inflasi.
Jika data ini terealisasi sesuai prediksi, hal tersebut akan mengonfirmasi tren disinflasi yang sedang berlangsung di AS.
Data yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan indeks Dolar AS dan imbal hasil obligasi AS, yang pada gilirannya dapat memberikan ruang sedikit bagi penguatan mata uang pasar berkembang, termasuk Rupiah.
2. Inflasi China
Tak hanya AS, China juga akan merilis data inflasi periode Februari, tepatnya pada Senin besok. Konsensus pasar memperkirakan inflasi akan naik menjadi 0,8% secara tahunan berkat dorongan dari efek Tahun Baru Imlek.
Sedangkan secara bulanan, inflasi China pada bulan lalu diprediksi naik menjadi 0,3%. Sebelumnya pada Januari lalu, Inflasi konsumen China mendingin pada Januari 2026, sementara deflasi harga produsen tetap berlanjut.
Biro Statistik Nasional (NBS) melaporkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,2% pada Januari 2026 dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan 0,8 persen pada Desember 2025 dan meleset dari ekspektasi para analis sebesar 0,4 persen.
Sedangkan Indeks harga produsen (PPI) turun 1,4% pada Januari lalu, memperpanjang tren deflasi selama bertahun-tahun.
Data ini memperkuat dorongan terhadap Beijing untuk mengeluarkan langkah kebijakan guna mengatasi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan.
Adapun dampak kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah kemungkinan baru akan terlihat pada data Maret.
Bagi Indonesia sebagai mitra dagang utama, stabilitas ekonomi China menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi kinerja ekspor dan harga komoditas.
4. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia
Di Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode Februari 2026 akan dirilis oleh Bank Indonesia (BI). Konsensus memperkirakan IKK RI bulan lalu cenderung turun menjadi 123,9, dari Januari 2026 yang mencapai 127.
IKK di Januari yang mencapai angka 127 menandakan kuatnya kondisi ekonomi. Kenaikan ini mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi yang membaik dan prospek ke depan yang semakin optimistis.
BI menyebut, meningkatnya keyakinan konsumen bersumber dari persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ke depan yang sama-sama berada di level optimis dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya.
3. Eskalasi Timur Tengah
Perkembangan konflik antara Iran vs AS-Israel masih akan dipantau oleh pelaku pasar pada pekan depan, di mana terbaru, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran di tengah eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah.
Trump menegaskan bahwa militer AS siap melancarkan serangan balasan yang jauh lebih masif dan mematikan terhadap Teheran pada Sabtu (7/3/2026) kemarin.
Melansir AFP, Trump menyampaikan ancaman tersebut secara langsung melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social. Ia mengindikasikan bahwa serangan kali ini tidak hanya sekadar balasan biasa, melainkan sebuah pukulan telak yang akan memperluas target operasi militer AS ke wilayah-wilayah yang sebelumnya belum tersentuh.
"Hari ini Iran akan dipukul sangat keras!," tulis Trump dalam unggahan tersebut, dilansir AFP, Sabtu (7/3/2026).
Pernyataan Trump menandakan adanya pergeseran strategi militer AS yang kini mempertimbangkan opsi penghancuran total terhadap aset-aset vital Iran. Trump menyebut bahwa perilaku agresif Iran telah memaksa Washington untuk menargetkan area dan kelompok baru yang selama ini tidak masuk dalam daftar sasaran tempur.
"Di bawah pertimbangan serius untuk kehancuran total dan kematian pasti, karena perilaku buruk Iran, adalah wilayah dan kelompok orang yang tidak dipertimbangkan untuk dijadikan target sampai saat ini," tambahnya.
Tak hanya itu saja, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan "darurat" 12.000 selongsong bom ke Israel pada Jumat lalu seiring memanasnya perang. Bantuan ini disebut untuk meningkatkan kemampuan Israel menghadapi ancaman regional saat ini dan masa depan.
Di sisi Israel, sebanyak 80 jet tempur melakukan operasi militer pada Sabtu malam. Militer Israel mengklaim jet-jet tersebut menghantam akademi Garda Revolusi Iran yang digunakan sebagai aset darurat. Pejabat provinsi Isfahan melaporkan setidaknya delapan orang tewas akibat serangan gabungan Israel dan AS tersebut.
Eskalasi di Timur Tengah yang masih belum ada tanda-tanda mereda membuat pasar khawatir akan dampak dari kenaikan harga energi seperti minyak mentah dan gas. Hal ini juga membuat pasar makin sulit diprediksi.
Selain itu, kemungkinan naiknya kembali dolar AS dan masih tingginya minat aset safe haven membuat aset berisiko seperti saham berpotensi masih mencatatkan volatilitas tinggi.
Diprediksi, pasar akan kembali memasang mode hati-hati pada pekan depan, mengingat konflik di Timur Tengah belum ada tanda-tanda mereda.
(chd/chd) Add as a preferredsource on Google




