Jakarta, CNBC Indonesia — Hari Perempuan Sedunia atau International Women's Day yang diperingati setiap 8 Maret, menjadi pengingat atas perjuangan panjang perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya di berbagai negara.
Lebih dari sekadar perayaan, momentum ini juga menjadi waktu untuk merenungkan capaian yang sudah diraih sekaligus mendorong langkah nyata menuju kesetaraan.
Isu kesetaraan gender sendiri merupakan salah satu pilar penting dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs yang diusung Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada Januari 2025, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan bahwa dunia harus melawan ketimpangan dengan memperluas peluang bagi perempuan dan anak perempuan.
Lalu, seberapa besar sebenarnya arti peringatan ini bagi kehidupanmu? Melansir Beautynesia, berikut rangkuman tentang International Women's Day.
Sejarah International Women's Day
Kalau kamu mengira peringatan ini baru muncul belakangan, ternyata akarnya sudah lebih dari satu abad lalu. Semuanya bermula dari National Women's Day di Amerika Serikat pada Februari 1909, yang kemudian menginspirasi gerakan lebih luas.
Setahun setelahnya, di Kopenhagen, aktivis hak perempuan Clara Zetkin mengusulkan adanya hari internasional untuk memperjuangkan kesetaraan hak. International Women's Day pertama kali diperingati pada Maret 1911, dan sejak 1913 tanggal 8 Maret ditetapkan secara resmi.
Pada 8 Maret 1914, pawai hak pilih perempuan digelar di London dan aktivis Sylvia Pankhurst bahkan ditangkap dalam aksi tersebut. PBB mulai merayakan hari ini pada 1975, lalu pada 1996 menetapkan tema tahunan pertama, yaitu "Merayakan Masa Lalu, Merencanakan Masa Depan".
Saat peringatan seratus tahun pada 2011, Presiden Amerika Serikat Barack Obama kembali menegaskan pentingnya bulan Maret sebagai sebagai Women's History Month. Ia menyatakan bahwa ketika perempuan dan anak perempuan memiliki akses pada kesempatan, masyarakat menjadi lebih adil, ekonomi lebih sejahtera, dan pemerintah lebih mampu melayani semua orang.
Bagaimana Kondisi Kesetaraan Gender Saat Ini?
Setelah tahu sejarahnya, sekarang coba kita lihat realitanya. UN Women bersama Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB merilis laporan Gender Snapshot 2024 yang menunjukkan bahwa belum satu pun indikator SDGs tentang kesetaraan gender benar-benar tercapai.
Memang ada kemajuan, misalnya persentase perempuan dan anak perempuan yang hidup dalam kemiskinan ekstrem turun di bawah 10%. Namun, untuk benar-benar menghapus kemiskinan tersebut, dunia masih membutuhkan sekitar 137 tahun. Angka ini tentu bikin kita berhenti sejenak dan berpikir.
Laporan Global Gender Gap 2024 dari World Economic Forum juga menemukan bahwa perubahan signifikan masih belum terjadi secara luas. Dari 146 negara yang diukur dalam empat dimensi utama, yaitu partisipasi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan politik, belum ada satupun yang mencapai kesetaraan penuh.
Sebanyak 97% negara memang sudah menutup lebih dari 60% kesenjangan, dibandingkan 85% pada 2006. Namun, kesenjangan terbesar tetap ada di bidang politik dengan angka penutupan hanya 22,8%, dan diperkirakan membutuhkan 169 tahun untuk menutupnya. Jadi, kalau kamu merasa perjuangan ini masih panjang, memang datanya juga menunjukkan demikian.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menutup Kesenjangan Gender?
Tahun ini menandai 31 tahun Deklarasi Beijing dan Platform Aksi PBB yang diadopsi 189 negara pada 1995. Dokumen ini menjadi cetak biru hak perempuan dan anak perempuan yang masih menjadi acuan global hingga sekarang.
PBB menyerukan agar pemerintah bertindak berani dan tegas demi semua perempuan dan anak perempuan. Untuk mencapai kesetaraan gender pada 2030, dibutuhkan investasi sebesar 360 miliar dolar AS setiap tahun. Namun sebaliknya, kegagalan menutup kesenjangan justru merugikan ekonomi global hingga triliunan dolar.
Selain pendanaan, dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil. World Economic Forum meluncurkan Global Gender Parity Sprint 2030 pada 2024 di Davos untuk mempercepat kesetaraan ekonomi gender dalam empat tahun ke depan.
Program ini mendorong aksi nyata melalui peningkatan visibilitas, kebijakan kesetaraan upah, peluang kepemimpinan perempuan, serta dukungan di sektor teknologi, hijau, dan perawatan. Accelerator yang berjalan di 17 negara telah membantu lebih dari satu juta perempuan mengakses peluang ekonomi, dan pada 2024 rencana aksi juga diluncurkan di Ekuador, Honduras, dan Guatemala. Artinya, perubahan memang mungkin terjadi jika semua pihak bergerak bersama.
International Women's Day bukan sekadar momen untuk mengunggah kutipan inspiratif atau foto bernuansa ungu. Ini adalah pengingat bahwa kesetaraan gender membutuhkan konsistensi, kebijakan nyata, dan dukungan lintas generasi.
Bagi perempuan Gen Z, momentum ini terasa semakin relevan karena masa depan ada di tangan kamu. Jadi saat hari perempuan sedunia kembali diperingati setiap 8 Maret, semoga itu bukan hanya seremoni, tetapi juga pengingat bahwa suara, pilihan, dan tindakan kamu hari ini ikut menentukan arah dunia esok hari.
(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google




