Jakarta, ERANASIONAL.COM – Seorang jurnalis asal India menjadi sorotan publik internasional setelah pernyataannya mengenai dampak serangan rudal Iran terhadap Israel viral di media sosial. Jurnalis tersebut, Brijmohan Singh, yang dikenal sebagai pimpinan media Sadhna Plus News, mengungkap pengalamannya saat berada di Israel ketika konflik militer antara Iran dan Israel semakin memanas.
Melalui sejumlah potongan video yang beredar luas di berbagai platform media sosial, Singh menyampaikan pengakuannya mengenai situasi yang ia saksikan secara langsung selama berada di Israel. Ia mengklaim bahwa kerusakan yang terjadi akibat serangan rudal Iran cukup signifikan, namun menurutnya tidak semua informasi mengenai dampak serangan tersebut dipublikasikan secara terbuka.
Singh mengatakan bahwa selama konflik berlangsung, pemerintah Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap aktivitas peliputan media. Ia menuturkan bahwa jurnalis tidak diperbolehkan merekam korban tewas maupun warga yang mengalami luka akibat serangan. Selain itu, akses media ke rumah sakit juga disebut dibatasi sehingga sulit bagi wartawan untuk memverifikasi jumlah korban secara independen.
Menurut Singh, berbagai pembatasan tersebut membuat banyak detail terkait dampak serangan tidak dapat dilaporkan secara luas kepada publik internasional. Ia mengaku bahwa informasi mengenai lokasi kerusakan maupun jumlah korban sering kali tidak diungkap secara rinci oleh otoritas setempat.
“Kami tidak diizinkan mengambil gambar korban yang tewas atau terluka. Kami juga tidak boleh pergi ke rumah sakit untuk melihat secara langsung situasi di sana,” kata Singh dalam salah satu video yang kemudian viral di media sosial.
Jurnalis tersebut sebelumnya berada di Israel untuk meliput kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi. Namun situasi konflik yang meningkat membuat sejumlah penerbangan internasional dibatalkan sehingga Singh bersama beberapa jurnalis India lainnya sempat tertahan di negara tersebut selama beberapa waktu.
Selama berada di Israel, Singh mengaku menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat menghadapi serangan rudal yang diluncurkan dari Iran. Ia mengatakan bahwa setiap kali sirene peringatan berbunyi, warga segera berlari menuju tempat perlindungan bawah tanah atau bunker yang tersedia di berbagai kota.
Namun Singh mengklaim bahwa bunker yang biasanya dianggap aman tidak selalu mampu memberikan perlindungan sepenuhnya. Ia menyebut beberapa lokasi perlindungan berada hingga puluhan meter di bawah tanah, tetapi tetap merasakan dampak dari ledakan yang terjadi di permukaan.
“Saat rudal menghantam, itu tidak membedakan siapa pun. Baik orang India maupun warga Israel sama-sama merasakan dampaknya,” ujar Singh.
Ia juga menambahkan bahwa banyak orang percaya bunker memberikan jaminan keamanan mutlak. Namun menurut pengamatannya, sejumlah warga tetap mengalami ketakutan dan penderitaan meskipun berada di tempat perlindungan yang dalam.
Selain itu, Singh juga mempertanyakan efektivitas sistem pertahanan udara Israel yang selama ini dikenal sangat canggih. Ia menuturkan bahwa dalam salah satu kejadian yang ia saksikan, sebuah rudal tiba-tiba menghantam wilayah tertentu tanpa adanya sirene peringatan sebelumnya.
“Orang-orang sering mengatakan Israel memiliki teknologi pertahanan yang sangat maju, tetapi pada suatu pagi tidak ada sirene sama sekali dan tiba-tiba rudal menghantam,” ungkapnya.
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, berbagai laporan media internasional juga menyebutkan bahwa serangan rudal Iran ke wilayah Israel semakin intens dalam beberapa hari terakhir. Menurut laporan sejumlah media, salah satu serangan terbaru terjadi pada Kamis malam ketika beberapa rudal menghantam wilayah sekitar Tel Aviv.
Media Turki Anadolu melaporkan bahwa salah satu saluran televisi Israel, Channel 12, menyebut pecahan rudal Iran jatuh di beberapa lokasi di sekitar pusat kota Tel Aviv. Laporan tersebut juga menyebutkan terjadinya kebakaran besar dan kerusakan material yang cukup serius di sejumlah area.
Beberapa saksi mata yang diwawancarai media internasional mengatakan bahwa kebakaran dan kerusakan bangunan terjadi setidaknya di beberapa titik di dalam maupun di luar wilayah metropolitan Tel Aviv. Tim pemadam kebakaran dan petugas penyelamat dilaporkan segera dikerahkan untuk menangani situasi tersebut.
Laporan lain yang dikutip dari Pars Today dan Mehr News Agency menyebutkan bahwa sebagian area Bandara Ben Gurion di Tel Aviv mengalami kebakaran setelah diduga terkena dampak serangan rudal balistik Iran. Sejumlah foto dan video yang beredar di media Israel juga memperlihatkan kobaran api dan asap tebal di beberapa lokasi.
Selama serangan tersebut berlangsung, sirene peringatan dilaporkan berbunyi di berbagai wilayah Israel, khususnya di kawasan Tel Aviv dan wilayah tengah negara itu. Warga setempat diminta oleh otoritas keamanan untuk segera mencari perlindungan di bunker atau ruang aman hingga situasi dinyatakan aman.
Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa serangan rudal terbaru dari Iran menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan di wilayah tengah Israel. Dalam laporannya, Haaretz menggambarkan serangan tersebut sebagai salah satu yang paling intens sejak konflik meningkat.
Menurut laporan tersebut, sejumlah rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara yang dioperasikan oleh Israel bersama Amerika Serikat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran baru mengenai efektivitas sistem intersepsi yang selama ini menjadi andalan pertahanan Israel.
Sementara itu, media Israel lainnya, Yedioth Ahronoth, melaporkan bahwa kegagalan sistem pertahanan udara untuk mencegat seluruh rudal yang datang memicu kepanikan di beberapa wilayah, terutama di kawasan Tel Aviv yang merupakan pusat ekonomi dan teknologi negara tersebut.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan gelombang serangan terbaru sebagai bagian dari operasi militer yang disebut Operasi True Promise 4. Dalam pengumuman yang dilaporkan kantor berita IRNA, IRGC menyebut bahwa gelombang serangan ke-22 telah diluncurkan dengan menggunakan berbagai jenis rudal.
Dalam rekaman video yang dirilis oleh IRGC, terlihat peluncuran beberapa jenis rudal seperti Khorramshahr-4, Kheibar, dan Fattah yang diarahkan menuju wilayah Israel. Iran mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap tindakan militer Israel di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, laporan lain dari Washington Post yang dikutip oleh Anadolu mengungkap dugaan adanya bantuan intelijen dari Rusia kepada Iran selama konflik berlangsung. Laporan tersebut menyebut bahwa Rusia diduga memberikan informasi mengenai lokasi aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Beberapa sumber anonim yang dikutip Washington Post menyatakan bahwa informasi tersebut mencakup lokasi kapal perang dan jet tempur Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan tersebut. Bantuan intelijen itu disebut telah diberikan sejak awal pecahnya konflik dalam beberapa hari terakhir.
Namun hingga kini tujuan pasti dari dugaan bantuan intelijen Rusia kepada Iran masih belum sepenuhnya jelas. Sejumlah analis menduga bahwa hubungan strategis antara kedua negara memainkan peran penting dalam dinamika konflik geopolitik yang sedang berlangsung.
Perkembangan situasi di Timur Tengah ini terus menjadi perhatian dunia internasional karena berpotensi mempengaruhi stabilitas keamanan global. Banyak negara kini memantau dengan cermat perkembangan konflik tersebut sambil menyerukan upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi yang lebih luas.





