ANTREAN panjang di SPBU sering kali dibaca sebagai persoalan sederhana: masyarakat membutuhkan bahan bakar dan berusaha mendapatkannya sebelum kehabisan.
Namun, jika diamati lebih jauh, antrean semacam ini tidak hanya berbicara tentang kebutuhan energi.
Ia juga mencerminkan kegelisahan sosial yang lebih dalam, tentang bagaimana masyarakat memaknai informasi, risiko, dan terutama kepercayaan terhadap institusi yang seharusnya menjamin stabilitas.
Isu geopolitik global, seperti ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dengan cepat beresonansi hingga ke tingkat kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kekhawatiran mengenai pasokan energi dunia dengan mudah berubah menjadi kecemasan lokal tentang ketersediaan bahan bakar.
Di tengah situasi itu, pernyataan resmi dari pemerintah maupun dari PT Pertamina yang menyebutkan bahwa stok BBM masih aman tidak selalu cukup untuk meredakan kegelisahan publik.
Baca juga: Stok BBM Nasional Dipastikan Aman, Masyarakat Diminta Tidak Panik
Bagi sebagian masyarakat, rasa aman tidak hanya lahir dari pernyataan formal, tetapi dari keyakinan bahwa sistem benar-benar dapat dipercaya.
Dalam kerangka sosial, panic buying tidak selalu dapat dipahami sebagai tindakan irasional. Ia sering kali merupakan respons terhadap ketidakpastian.
Ketika kemungkinan krisis dibayangkan lebih besar daripada risiko membeli secara berlebihan, orang cenderung memilih mengamankan dirinya terlebih dahulu.
Mengisi penuh tangki kendaraan atau datang lebih awal ke SPBU menjadi strategi sederhana untuk menghadapi kemungkinan yang belum tentu terjadi, tetapi terasa cukup nyata dalam imajinasi kolektif.
Pendekatan antropologis membantu membaca fenomena ini secara lebih luas. Antropolog seperti James C. Scott menjelaskan bahwa dalam banyak masyarakat, warga tidak selalu sepenuhnya bergantung pada jaminan negara.
Mereka sering mengembangkan berbagai cara informal untuk melindungi diri dari ketidakpastian kebijakan atau perubahan situasi.
Dalam logika tersebut, panic buying dapat dilihat sebagai bentuk adaptasi sosial—cara masyarakat mengelola rasa tidak pasti dengan tindakan yang mereka anggap paling aman.
Konsep moral economy juga memberikan perspektif penting. Dalam pandangan ini, masyarakat memiliki harapan moral terhadap negara untuk menjaga akses terhadap kebutuhan dasar.
Energi, seperti halnya pangan, tidak semata-mata dipahami sebagai komoditas ekonomi, tetapi sebagai kebutuhan vital yang harus dijaga stabilitasnya.




