Traveler yang sering bepergian naik pesawat mungkin pernah mendengar kru menyebut istilah tertentu. Tahukah kamu sebagian frasa tersebut sebenarnya adalah kode yang memiliki makna tertentu, lho?
Dilansir Travel andd Leisure, dalam industri penerbangan ada berbagai istilah, kode, dan bahasa khusus yang digunakan kru untuk berkomunikasi secara cepat dan efisien. Kode-kode ini pun beragam, ada yang digunakan untuk mengidentifikasi penumpang, hingga kode untuk memberi sinyal adanya situasi darurat tanpa menimbulkan kepanikan di antara penumpang.
Menurut para ahli perjalanan dari Wander, kode seperti “Code 300” atau “Angel” biasanya digunakan untuk menandakan adanya penumpang yang meninggal dunia di dalam penerbangan.
Direktur Operasi Cirrus Aviation Services, Jason Martinelli, menjelaskan bahwa istilah tersebut sering dipakai maskapai untuk memberi sinyal secara halus terkait kondisi medis yang sangat serius di dalam kabin.
“Istilah seperti ‘Code 300’ atau ‘Angel’ biasanya digunakan maskapai penerbangan komersial untuk secara diam-diam menandakan adanya keadaan darurat medis di dalam pesawat, seperti penumpang yang tidak sadarkan diri atau dalam kondisi kritis,” ujarnya.
Meski demikian, Martinelli menambahkan bahwa setiap maskapai penerbangan memiliki prosedur dan kode internal yang berbeda. Artinya, tidak semua kode bersifat standar di seluruh dunia.
Selain dua istilah tersebut, ada juga beberapa kode lain yang kadang digunakan kru pesawat. Misalnya “Code Yellow” yang biasanya menandakan insiden medis ringan. Sementara itu, istilah “Pan-pan” digunakan untuk menunjukkan situasi darurat serius, namun tidak mengancam nyawa secara langsung.
Ada pula istilah yang lebih santai, seperti “Mermaid”, yang digunakan untuk menyebut penumpang yang sengaja membentangkan tubuh di beberapa kursi kosong, agar bisa memiliki satu baris kursi sendiri.
Alasan Penggunaan Kode di PesawatPenggunaan bahasa kode ini bertujuan agar kru pesawat dapat berkoordinasi dengan tenang, tanpa menimbulkan kepanikan di antara penumpang. Martinelli yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun sebagai pilot mengatakan bahwa pengumuman langsung mengenai keadaan darurat bisa memicu ketakutan dan kerumunan di lorong kabin.
“Jika keadaan darurat diumumkan secara langsung melalui pengeras suara, hal itu dapat menimbulkan ketakutan, kebingungan, bahkan penumpang berdesakan di lorong. Komunikasi dengan kode memungkinkan kru bekerja secara lebih tenang dan efisien,” jelasnya.
Namun, tidak semua pilot menggunakan kode-kode tersebut. Direktur Acron Aviation Academy, David Cox, yang memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade sebagai pilot untuk maskapai dan klien korporasi, mengatakan dirinya jarang menggunakan kode khusus melalui sistem pengeras suara.
“Bahkan setelah peristiwa 11 September, tidak ada kode atau frasa standar yang digunakan melalui sistem pengumuman di pesawat,” katanya.
Menurut Cox, kru pesawat sering menggunakan cara komunikasi lain yang lebih halus. Salah satunya melalui bunyi chime atau nada pemberitahuan di kabin. Biasanya bunyi ini terdengar ketika pesawat melewati ketinggian 10.000 kaki, saat penumpang diminta bersiap untuk mendarat, atau ketika terjadi keadaan darurat.
Selain itu, kru juga memiliki pola ketukan tertentu di pintu kokpit, untuk memberi sinyal kepada pilot mengenai situasi tertentu di dalam kabin.





