Rupiah Dibuka Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Masa

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp17.001 pada perdagangan hari ini, Senin (9/2/2026). Di sisi lain, laju greenback tercatat mengalami kontraksi. 

Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka melemah 76 poin atau 0,45% ke Rp17.001 per dolar AS. Adapun, indeks dolar AS menguat 0,70% menuju level 99,67.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Asia melemah. Yen Jepang terdepresiasi 0,58% bersama won Korea sebesar 0,85%. Selanjutnya, rupee India dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,16% dan 0,49% terhadap dolar AS.

Adapun, nilai rupiah tersebut bahkan melewati rekor saat pandemi Covid-19 per Maret 2020 di level Rp16.600 hingga Rp16.700 per dolar AS dan Krisis Moneter pada Juni 1998 yang menyentuh Rp16.800 per dolar AS dalam perdagangan intraday. 

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif tapi cenderung ditutup melemah di rentang Rp16.920 hingga Rp17.010 per dolar AS. Adapun untuk sepanjang pekan ini, rupiah diprediksi bergerak dalam kisaran Rp16.850–Rp17.010 per dolar AS.

Dia sebelumnya menyampaikan bahwa salah satu faktor pelemahan rupiah dipengaruhi oleh faktor internal, menyusul langkah Fitch Ratings yang menurunkan prospek Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Baca Juga

  • Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Senin 9 Maret 2026
  • Kurs Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Minggu 8 Maret 2026 di BNI dan BRI
  • Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.925, Dolar AS Tergelincir

Seiring hal tersebut, pemerintah diketahui berupaya mengerek tax ratio atau rasio pajak usai menjadi salah satu pertimbangan Fitch Ratings.

“Dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia selalu berada di kisaran 9% hingga 10% terhadap PDB. Bahkan, angkanya cenderung menurun seperti yang terjadi pada tahun lalu dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026). 

Selain itu, tingginya belanja sosial pemerintah, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menelan porsi 1,3% terhadap PDB periode 2025–2029, turut dinilai menjadi beban yang memicu kekhawatiran fiskal.

Dari sisi eksternal, Ibrahim menyampaikan bahwa pasar tetap waspada terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang memasuki hari ketujuh. Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah yang berpotensi menyulut gelombang inflasi global baru.

“Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat,” pungkasnya.

 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Video: Sederet PR BPKH Kelola Dana Haji Saat Rupiah Melemah
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hayati Kamelia Akui Diputusin Ammar Zoni Lewat Surat Pernyataan
• 1 jam lalucumicumi.com
thumb
Kemenangan yang Menahan Diri: Pembebasan Mekah, Ramadhan 8 Hijriah
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Angin Puting Beliung Terjang Jombang, Belasan Bangunan Rusak
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Kronologi Longsor di TPST Bantargebang, 4 Orang Ditemukan Tewas
• 1 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.