Jakarta, CNBC Indonesia - Pengakuan mengejutkan datang dari mantan animator utama pengembang game Infinity Ward. Ia menyebut perusahaan penerbit Activision pernah meminta agar timnya membuat seri Call of Duty yang mengangkat skenario perang Iran menyerang Israel.
Hal ini diungkapkan oleh Chance Glasco, salah satu pendiri Infinity Ward, melalui unggahan di platform X pada 4 Maret.
Glasco mengatakan ada tekanan dari Activision agar game Call of Duty berikutnya berfokus pada konflik antara Iran dan Israel. Ia menyebut gagasan tersebut muncul setelah terbentuknya Respawn Entertainment, yang mengindikasikan bahwa seri yang dimaksud kemungkinan adalah Call of Duty: Modern Warfare 3 yang dirilis pada 2011.
Namun rencana tersebut akhirnya tidak diwujudkan. Glasco mengungkap mayoritas pengembang di Infinity Ward menolak ide tersebut karena merasa tidak nyaman menjadikan konflik nyata sebagai tema utama permainan.
- Sumber Uang Pemasok Senjata Canggih AS Disetop, Ini Alasannya
- Taktik Licik Trump agar Seluruh Dunia Tunduk ke Amerika
- Iran Ngamuk! Ancam Membumihanguskan Fasilitas Minyak Negara Teluk
"Sebagian besar pengembang merasa muak dengan gagasan itu," katanya, dikutip dari GameSpot, Senin (9/3/2026).
Pernyataan Glasco muncul setelah Gedung Putih menggunakan cuplikan permainan Call of Duty untuk menyoroti operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Meski demikian, Glasco mengaku tidak terkejut melihat penggunaan rekaman permainan tersebut untuk kepentingan propaganda.
Selama ini, seri Call of Duty memang jarang menggunakan negara nyata di Timur Tengah sebagai latar konflik. Pengembang lebih sering memakai negara fiktif sebagai pengganti kawasan tersebut.
Meski begitu, beberapa negara asli pernah muncul dalam seri sebelumnya. Afghanistan misalnya tampil dalam Call of Duty: Modern Warfare 2 (2009) serta Call of Duty: Black Ops (2010).
Glasco juga menyinggung misi kontroversial "No Russian" di Modern Warfare 2, yang menampilkan adegan penembakan warga sipil di bandara Moskow. Menurutnya, adegan tersebut awalnya hanya berupa elemen cerita sederhana sebelum akhirnya berkembang menjadi salah satu misi dalam permainan.
Ia menjelaskan bahwa tim pengembang pada masa awal seri Call of Duty sengaja mencoba menggambarkan sisi kelam perang.
"Dalam Call of Duty generasi awal, kami ingin mengingatkan orang bahwa perang itu mengerikan dan bukan sekadar video game," ujarnya.
"Jika memainkan seri Call of Duty awal dari Infinity Ward, pesan itu akan terlihat di sepanjang permainan. Kami ingin pemain merasa jijik, dan sengaja berusaha membuat mereka benar-benar merasakan betapa buruknya perang," imbuhnya.
Menurut Glasco, saat misi tersebut diuji kepada pemain sebelum perilisan, banyak pemain justru terdiam ketika menyadari apa yang tampaknya harus mereka lakukan. Beberapa bahkan meletakkan kontroler dan menolak melanjutkan permainan. Ia menilai reaksi itu justru menunjukkan pesan yang ingin disampaikan pengembang berhasil.
"Menurut saya, reaksi seperti itu jauh lebih baik daripada jika 100% pemain langsung menyerbu level tersebut tanpa emosi sama sekali," ujarnya.
Sementara itu, GameSpot menyebut telah menghubungi Activision untuk meminta komentar terkait klaim tersebut, namun belum mendapat tanggapan.
Pengakuan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer bersama terhadap Iran sejak 28 Februari. Salah satu serangan menghancurkan sebuah bangunan yang ditempati siswi sekolah dan menewaskan ribuan orang.
(dem/dem) Add as a preferred
source on Google




