Harga emas dunia anjlok seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia mendekati USD 120 per barel, yang menyebabkan adanya kekhawatiran kenaikan suku bunga. Selain itu, harga emas juga ditekan oleh penguatan dolar AS.
Dikutip dari Bloomberg pada Senin (9/3), harga emas spot sempat anjlok hingga 3 persen ke level USD 5.015 per troy ons.
“Penurunan emas ini adalah ‘monster inflasi’ yang memperkuat dolar. Harga minyak di level USD 100 memicu rantai reaksi mulai guncangan energi, ekspektasi inflasi, dolar yang lebih kuat, dan emas yang lebih lemah,” kata analis Vantage Markets di Melbourne, Hebe Chen.
Saat ini, beberapa produsen minyak dan gas utama di kawasan Teluk Persia telah memangkas produksi imbas perang AS-Israel dengan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Lonjakan harga minyak memang memicu kekhawatiran inflasi di AS yang bisa meningkatkan kemungkinan Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya.
Jika hal itu terjadi, biaya pinjaman yang lebih tinggi. serta dolar yang lebih kuat disebut bisa berdampak negatif bagi logam mulia, khususnya emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Meski begitu, emas juga juga disebut bisa menjadi sumber likuiditas ketika pasar saham global mengalami tekanan tajam.
“Dalam periode tekanan pasar yang dipicu geopolitik, investor terkadang menjual aset seperti emas untuk mengumpulkan uang tunai. Setelah fase itu berlalu, ketidakpastian geopolitik biasanya tetap menopang permintaan terhadap aset safe haven saat harga turun,” kata Christopher Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp.
Dengan adanya perang, reli harga emas juga mulai tertahan. Bersamaan dengan itu, dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang utama lainnya. Indeks dolar AS bahkan sempat tercatat melonjak hingga 0,7 persen.
Menurut analis logam Marex Capital Markets, Ed Meir, jika perang berakhir relatif cepat maka dolar AS diprediksi bisa melemah dan harga emas dapat kembali naik. Namun jika perang berlangsung lama, dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury diperkirakan akan meningkat karena antisipasi inflasi yang lebih tinggi.
“Ada waktu untuk membeli, ada waktu untuk menjual, dan ada waktu untuk sekadar menunggu (pergerakan harga). Saat ini, pilihan terakhir tampaknya menjadi langkah yang paling tepat,” ujar Meir.





