Rahasia Strategi Iran Melawan AS-Israel dalam Perang Terbuka

suara.com
5 jam lalu
Cover Berita

Suara.com - Amerika Serikat dan Israel mengklaim serangan udara gabungan berkelanjutan yang mereka lakukan telah melemahkan kemampuan militer Iran secara signifikan.

"Pertahanan udara, angkatan udara, angkatan laut, dan kepemimpinan mereka sudah hancur," tulis Presiden AS Donald Trump di platform Truth Social pada Selasa, 3 Maret. "Mereka ingin berbicara. Saya bilang, 'Terlambat!'"

Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap Israel dan negara-negara Timur Tengah yang menampung pangkalan militer AS, dengan alasan demi membela diri.

Namun, ketika Israel dan Amerika Serikat dianggap unggul secara militer, pertanyaannya adalah: pilihan apa yang masih dimiliki Iran dalam perang inidan strategi apa yang sedang dijalankannya?

Menguras sumber daya

Dr. H. A. Hellyer, pakar keamanan Timur Tengah dari lembaga kajian Royal United Services Institute (RUSI) di UK, mengatakan pendekatan militer Iran saat ini bukan untuk mengalahkan Amerika Serikat atau Israel "dalam perang konvensional," melainkan untuk membuat konflik menjadi "berlarut-larut, tersebar secara regional, dan mahal secara ekonomi."

"Iran tidak bisa menang secara konvensionaltetapi strateginya adalah memastikan kemenangan pihak lain tetap mahal dan tidak pasti," ujarnya.

Nicole Grajewski, asisten profesor di Centre for International Studies (CERI), Sciences Po, Prancis, sependapat.

Dia menggambarkan strategi Iran sebagai "perang atrisi"yakni pendekatan militer yang bertujuan melemahkan lawan dengan menguras sumber daya dan menimbulkan kerugian berkelanjutan sampai kemampuan bertempur lawan melemah.

  • Apa tujuan AS-Israel menyerang Iran?
  • AS-Israel serang Iran, di mana Rusia dan China?
  • Apa yang terjadi jika Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur minyak global?

Ada pula dimensi psikologis. "Selama Perang 12 Hari [melawan Israel, tahun lalu], Iran lebih banyak mengarahkan serangan ke wilayah sipil," kata Grajewski.

Baca Juga: Minyak Mentah Cetak Rekor, Harga Sawit Ikutan Meroket!

"Ketepatan bukanlah hal utama. Tujuannya menanamkan rasa takut dan trauma psikologis di tengah masyarakat."

Rudal dan drone diyakini menjadi tulang punggung doktrin pertahanan Iran.

Persediaan rudal balistik Iran dilaporkan sangat terdampak selama Perang 12 Hari, namun "jumlah pastinya tetap tidak jelas karena ada penyimpanan bawah tanah dan upaya reproduksi yang terus berlangsung," kata Nicole Grajewski.

Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal pada Februari 2026baik jarak pendek (hingga 1.000 km) maupun jarak menengah (1.0003.000 km).

Pejabat Iran menyebut mereka telah menggunakan sistem termasuk rudal Sejjil, yang disebut-sebut mampu menjangkau target sejauh 2.000 km, serta Fattah, yang oleh Teheran dikategorikan sebagai rudal hipersonikjauh lebih cepat daripada kecepatan suara.

'Kota-kota rudal'

Media Iran kerap menjuluki fasilitas rudal bawah tanah itu sebagai "kota rudal," meski ukuran dan persediaan amunisi di dalamnya belum terverifikasi.

Namun, Jenderal Dan Caine, komandan tertinggi AS, mengatakan peluncuran rudal balistik Iran telah turun 86% sejak hari pertama pertempuran, Sabtu 28 Februari. Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan penurunan lebih lanjut sebesar 23% pada Selasa, 4 Maret.

Meski demikian, Dr. Hellyer menilai Iran masih memiliki kapasitas serangan yang signifikan untuk menargetkan "infrastruktur Israel, pangkalan regional AS, dan sekutu Teluk, sekaligus mengancam arus energi global melalui Selat Hormuz."

"Bahkan gangguan terbatas di Selat itu bisa berdampak ekonomi global yang parah," ujarnya.

Sekitar 20% minyak dunia melewati selat sempit tersebutyang kini secara efektif ditutup oleh Iran disertai ancaman akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintas.

Meski Iran mungkin menghadapi kekurangan rudal canggih dan propelan padat, Nicole Grajewski menekankan bahwa kapasitas drone negara itu tetap signifikan.

Diperkirakan Iran telah memproduksi puluhan ribu drone serang satu arah Shahed sebelum perang. Desainnya bahkan diekspor ke Rusia, dan beberapa aspek teknologinya ditiru oleh Amerika Serikat.

Drone ini bukan hanya berfungsi untuk menimbulkan kerusakan langsung, tetapi juga memiliki tujuan strategis: "mengikis sistem pertahanan udara dari waktu ke waktu" dengan memaksa lawan menghabiskan rudal pencegat yang mahal.

"Sebagian dari strategi ini adalah menguras kemampuan pencegat," jelas Grajewski. "Iran melakukan hal ini dengan UAV dan drone. Itu juga yang dilakukan Rusia di Ukraina."

Namun, AS menyatakan peluncuran drone Iran telah turun 73% sejak hari pertama konflik.

Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) yang berbasis di Tel Aviv melaporkan AS dan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 serangan multi-munisi, sementara Iran meluncurkan 571 rudal dan 1.391 dronebanyak di antaranya berhasil dicegat.

Para pakar menilai mempertahankan tempo pertempuran seperti ini akan semakin sulit bagi kedua belah pihak seiring berlanjutnya perang.

Konflik berkepanjangan

Iran juga memiliki salah satu angkatan bersenjata terbesar di Timur Tengah.

Menurut perkiraan laporan International Institute for Strategic Studies (IISS) Military Balance 2025, Iran memiliki sekitar 610.000 personel aktif, termasuk:

  • 350.000 prajurit angkatan darat reguler.
  • 190.000 anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang menangani program rudal dan drone serta banyak operasi regional.

Iran juga mengandalkan jaringan sekutu regionaltermasuk pemberontak Houthi di Yaman, kelompok bersenjata di Irak, Hizbullah di Lebanon, dan Hamas di Palestina. Akan tetapi, Poros Perlawanan tersebut telah mengalami pukulan besar dalam gelombang pertempuran di berbagai wilayah sejak serangan Hamas pada Oktober 2023 dari Gaza.

Terlepas dari kendala saat ini, Iran memiliki pengalaman dalam menghadapi konflik berkepanjangan, kata Grajewski.

Ketahanan Iran berakar sejak Perang IranIrak, ketika kota-kotanya berulang kali menjadi sasaran seranganmeski inferior secara konvensional. Namun, daya tahan strategi Iran kini sangat bergantung pada kohesi internal.

"Semua bergantung pada apakah elite keamanan dan politik tetap bersatu atau justru terpecah," kata Grajewski. "Jika terjadi perpecahan, strategi militer bisa semakin kacau."

Ia menambahkan bahwa operator rudal tampak berada di bawah tekanan dan kelelahan berat, yang menyebabkan tembakan salah sasaran atau ketidakakuratan.

"Banyak operasi yang lebih tidak terorganisir, dengan tingkat kelelahan yang tinggi."

Kondisi ini, ditambah dengan serangan berkelanjutan terhadap persediaan dan pasukan rudal Iran, "dapat memicu eskalasi yang tidak disengaja."

'Eskalasi lebih lanjut'

Grajewski menyoroti pernyataan Turki bahwa pertahanan udara NATO telah menghancurkan sebuah rudal balistik Iran yang menuju wilayah udara Turki pada Rabu (04/03).

Turkitetangga Iran yang sempat berusaha menengahi perundingan ASIran sebelum AS-Israel melakukan serangan pada 28 Februari lalumemperingatkan "semua pihak agar menahan diri dari tindakan yang dapat memicu eskalasi lebih lanjut."

Namun, menurut Grajewski, tujuan lebih luas Iran adalah membuat kondisi "begitu tak tertahankan" bagi negara-negara tetangga sehingga mereka "berpotensi menekan AS atau setidaknya mendorong AS ke arah penyelesaian negosiasi atau penghentian permusuhan."

"Sejauh ini, saya belum tahu apakah itu akan berhasil, tetapi tampaknya itulah taruhan Iran saat ini," tambahnya.

Taruhan ini bisa saja berbalik arah. Hellyer mengatakan negara-negara Teluk "mungkin memutuskan bahwa meskipun awalnya menentang perang ASIsrael terhadap Iran, kini keamanan mereka sendiri terancam oleh serangan balasan Iran. Maka lebih masuk akal untuk mendukung aksi AS demi mengakhiri ancaman langsung dari Iran."

"Saya tidak berpikir negara-negara Teluk sudah sampai pada titik itu," ujarnya, "tetapi saya rasa waktunya semakin menipis."

  • Sejauh mana dampak perang AS-Israel dengan Iran terhadap stabilitas ekonomi-politik Indonesia?
  • Apa tujuan AS-Israel menyerang Iran?
  • Apakah negara-negara Teluk akan membalas serangan Iran dan bakal terseret dalam perang?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indef nilai stabilitas harga pangan dunia sinyal positif di Lebaran
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Minat Menabung Warga Sulsel Meningkat, DPK Tembus Rp145 Triliun
• 3 jam laluterkini.id
thumb
Banjir Jakarta, Tangerang, Jawa Timur, Ini 6 Aplikasi untuk Cek Lokasi Terdampak
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Hari ke-19 Ramadan, Harga Cabai Rawit Tembus Rp105.250/Kg di Cirebon
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
NYDIG: Meski Sering Ikuti Saham, Investasi Bitcoin (BTC) Tetap Efektif Jadi Diversifikasi Portofolio
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.