Indef nilai stabilitas harga pangan dunia sinyal positif di Lebaran

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - ‎Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kondisi pangan global saat ini menunjukkan sinyal stabilisasi yang dapat menjadi faktor positif menjelang Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah di Indonesia.



‎Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef Afaqa Hudaya dalam diskusi daring dipantau dari Jakarta, Senin menyampaikan, harga pangan global saat ini memang belum sepenuhnya pulih, namun tekanan yang sebelumnya cukup tinggi mulai mereda seiring membaiknya kondisi pasokan di berbagai negara.

‎“Jika dilihat dari stabilisasi harga pangan global di tengah risiko ketahanan pangan, saat ini cukup persisten di mana memang harga pangan global itu sendiri memasuki fase stabilisasi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, meredanya tekanan harga pangan global tidak terlepas dari membaiknya produksi pertanian di sejumlah negara, yang juga didukung oleh kondisi cuaca yang lebih baik sehingga meningkatkan output pertanian dunia.

Baca juga: Indef nilai Lebaran jadi momen penguatan UMKM dan perputaran ekonomi

Mengacu pada laporan Global Economic Prospects 2026 dari Bank Dunia, perbaikan produksi pertanian menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketersediaan pasokan pangan global. Dengan demikian, pelemahan harga yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor produksi dan stok yang relatif memadai.

‎“Meredanya tekanan harga berlangsung dalam konteks pasokan global yang relatif memadai,” kata Afaqa.

Di sisi domestik, ia menilai dinamika harga pangan menjelang Ramadhan menunjukkan moderasi dibandingkan dengan volatilitas yang terjadi pada tahun sebelumnya.

Meskipun terdapat kenaikan pada beberapa komoditas seperti beras medium, gula, dan minyak goreng, kondisi tersebut masih berada dalam tren yang dapat diantisipasi melalui pengelolaan pasokan yang baik.

Baca juga: NEXT dorong pemanfaatan EBT untuk kurangi ketergantungan energi fosil

‎Afaqa juga menilai bahwa meningkatnya permintaan selama Ramadhan merupakan fenomena musiman yang wajar dalam siklus ekonomi tahunan.

Selain pangan, Afaqa turut menyoroti perkembangan pasar energi global yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meski konflik berpotensi memicu volatilitas harga minyak, kondisi ini juga menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional lewat diversifikasi sumber energi.

Selama satu dekade terakhir, neraca perdagangan migas Indonesia masih berada dalam posisi defisit. Pada akhir 2025, defisit migas tercatat 2,09 miliar dolar AS yang menunjukkan bahwa konsumsi energi nasional masih lebih tinggi dibandingkan kemampuan produksi domestik.‎

Baca juga: Perhumas yakin AI bantu UMKM tingkatkan branding dan pacu skala usaha

Namun di sisi lain, situasi tersebut juga mendorong urgensi pengembangan energi alternatif serta peningkatan efisiensi energi nasional.‎

Program bauran energi seperti biodiesel yang telah berjalan, menurutnya menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jakarta Terancam Penumpukan Sampah Imbas Longsor TPST Bantar Gebang?
• 6 jam lalusuara.com
thumb
Di Balik Perintah Siaga 1 TNI Imbas Konflik Timur Tengah
• 11 jam laludetik.com
thumb
Prabowo Kumpulkan Mantan Ajudan dan Pengawal era Kostrad-Kopassus di Hambalang
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Kemenangan yang Menahan Diri: Pembebasan Mekah, Ramadhan 8 Hijriah
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Nuzulul Quran Momentum Menguatkan Keimanan dan Memperbanyak Wakaf Mushaf
• 19 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.