Fatimah duduk sendirian di Posko Pencarian Korban Hilang Longsornya TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (9/3/2026). Ia tengah mencari dan menunggu kabar anak angkatnya, Riki Supiadi, sopir truk yang menjadi salah satu korban longsornya timbulan sampah tersebut.
”Sudah sejak Sabtu (7/3/2026) Riki bekerja. Terakhir ia memakai baju hitam dan celana abu-abu,” kata Fatimah sembari menahan tangis.
Gubernur Jakarta Pramono Anung juga terlihat meninjau lokasi TPST Bantargebang yang menjadi milik Jakarta. Curah hujan yang tinggi dan durasi yang lama diduga sebagai pemicu longsornya timbulan sampah di TPST DKI Zona 4C, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, pada Minggu (8/3/2026) pukul 14.30 WIB tersebut. Longsoran sepanjang 40 meter menutup jalan operasional dan Sungai Ciketing di sampingnya.
Setelah apel pagi, alat berat kembali bekerja. Petugas gabungan memasuki poskonya masing-masing untuk mengamati dan koordinasi antar-instansi. Terdapat 15 alat berat jenis ekskavator milik Dinas Lingkungan Hidup yang digunakan. Masih terdapat lima orang yang terdiri dari dua sopir truk dan tiga pemulung yang belum ditemukan.
Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Jakarta Akhmad Rizkiansah mengatakan, sampai hari kedua, sebanyak 336 petugas gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Pemadam Kebakaran, dan Satpol PP terlibat dalam pencarian korban hilang. Terdapat 13 korban dalam peristiwa tersebut, yakni 4 orang meninggal, 5 orang hilang, dan 4 orang selamat. Kendalanya sekarang adalah adanya kandungan gas dari timbulan sampah saat pencarian.
Berdasarkan data timbangan TPST Bantargebang, rata-rata jumlah sampah yang masuk mencapai 7.228 ton per hari pada tahun 2021 atau meningkat sekitar 27 persen dari rata-rata sampah tahun 2015 sebesar 5.655 ton per hari.





