Harga minyak naik, Purbaya evaluasi penyesuaian APBN sebulan ke depan

antaranews.com
12 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi waktu satu bulan untuk mengevaluasi potensi penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat harga minyak dunia yang melonjak.



“Saya akan evaluasi selama satu bulan ke depan apa yang terjadi dan kami akan lakukan penyesuaian seperlunya,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Senin.

Diberitakan oleh Sputnik, harga minyak mentah jenis Brent mencapai 118 dolar AS per barel untuk kali pertamanya sejak 17 Juni 2022.

Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel, dan US WTI berada di angka 57,87 dolar AS per barel.

Baca juga: Bahlil: Harga Pertalite tak naik meski minyak dunia capai 118 dolar AS

Lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Purbaya memastikan akan terus memantau perkembangan harga minyak dan mengambil keputusan yang diperlukan pada waktu yang tepat.

Untuk sejauh ini, Purbaya berpendapat rerata perkembangan harga minyak masih di bawah kapasitas maksimal APBN.

“Jangan cepat menyimpulkan harga akan 100 dolar AS terus. Kami akan lakukan asesmen dari waktu ke waktu. Hitungan berubah terus sesuai keadaan, sekarang belum 100 dolar AS kan rata-ratanya. Masih di bawah itu, jadi tenang dulu,” jelas Menkeu.

Baca juga: Rupiah Senin melemah terseret lonjakan harga minyak dunia

“Kami monitor dari waktu ke waktu dan saya nggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan,” ujarnya menambahkan.

Purbaya pun menilai dampak lonjakan harga minyak dunia belum memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi domestik. Menurutnya, perekonomian nasional masih menunjukkan kinerja yang ekspansif.

“Yang jelas kami cukup pintar. Penyesuaian yang dilakukan tidak akan mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Sebagai catatan, analisis sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar makroekonomi menghitung setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp6,8 triliun.

Baca juga: Lonjakan harga minyak global, IHSG diprediksi melemah hari ini

Adapun dalam APBN 2026, asumsi ICP berada pada level 70 dolar AS per barel.

Perhitungan Kementerian Keuangan menunjukkan defisit APBN bisa mencapai 3,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) bila harga minyak bertahan pada level 92 dolar AS per barel sepanjang tahun dan tidak ada intervensi dari pemerintah.

Tetapi, Purbaya memastikan bakal mengambil langkah mitigasi agar tekanan harga minyak dunia tidak memperlebar defisit APBN.

Baca juga: Respons "panic buying", ESDM jamin harga BBM tak naik dan stok aman


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peristiwa 9 Maret: Kelahiran WR Soepratman hingga Hari Musik Nasional
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
NBA : Wembanyama Pimpin Spurs Hancurkan Rockets, Lakers Tekuk Knicks
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
RI Serukan AS, Israel, dan Iran Hentikan Serangan di Timur Tengah
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Arab Saudi Ancam Iran, Teheran bakal Jadi Pecundang Terbesar jika Terus Serang Negara Arab
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Pramono Bakal Perketat Pemilahan Sampah agar Tak Semua Dikirim ke Bantargebang
• 14 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.