Intip Racikan Reksa Dana Sinarmas AM kala Kondisi Pasar Modal Menantang

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Sinarmas Asset Management memutar otak dalam meracik produk reksa dana agar tetap memberikan imbal hasil (return) tinggi saat kondisi pasar modal Tanah Air dikepung sentimen negatif pada kuartal I/2026.

Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu mengatakan kondisi pasar modal Indonesia belakangan ini sangat menantang ditekan berbagai sentimen, tetapi hal itu tidak menunjukkan perubahan kondisi fundamental pasar modal RI.

”Kami tidak melihat kondisi pasar saat ini sebagai pelemahan yang bersifat permanen. Secara historis, pasar cenderung mulai stabil kembali ketika ketidakpastian global mereda, stabilitas nilai tukar membaik, serta likuiditas kembali normal,” tegasnya kepada Bisnis, dikutip Senin (9/3/2026).

Menurut Genta, terdapat sejumlah sentimen negatif yang di lantai bursa mulai dari pengumuman MSCI, revisi outlook utang pemerintah, hingga tensi geopolitik yang memanas di Iran,

Namun demikian, dia melihat efek dari sentimen negatif itu hanya bersifat siklikal dan tidak memberikan perubahan struktural terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Alasannya, secara makroekonomi posisi Indonesia masih didukung oleh stabilitas sektor perbankan, struktur fiskal yang relatif terjaga, dan dukungan harga komoditas global yang kian memanas.

Di tengah kondisi seperti ini, Sinarmas AM untuk mengantisipasi volatilitas yang kian tajam ke depan. Sebagai strategi menyusun reksa dana saham, Sinarmas AM berupaya untuk mengelola portofolio dengan lebih menekankan alokasi aset serta penguatan manajemen risiko.

Baca Juga

  • Babak Belur IHSG: Belum Pulih dari Sentimen MSCI, Kini Dihantam Lonjakan Harga Minyak
  • Manuver MI Atur Ulang Portofolio Reksa Dana saat Konflik Iran-AS Memanas

Sejak awal tahun, Sinarmas disebut telah menjalankan strategi berupa peningkatan fleksibilitas portofolio melalui penambahan porsi instrumen pasar uang atau aset likuid. Strategi ini bertujuan menjaga stabilitas portofolio dan menyediakan ruang untuk melakukan penyesuaian investasi ketika peluang valuasi yang menarik mulai bermunculan.

Salah satu reksa dana milik Sinarmas AM adalah Simas Danamas Saham. Meskipun kinerja sepanjang 2026 mengalami koreksi 3,15%, tetapi kondisi ini lebih baik dibandingkan indeks acuan yang terkoreksi 15,14% YtD. 

Beberapa saham yang masuk dalam reksa dana ini antara lain PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), atau PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG).

”Di sisi lain, kami juga melihat adanya peluang pada sektor-sektor yang memiliki sensitivitas positif terhadap dinamika harga komoditas global, seperti sektor energi maupun logam mulia,” tambah Genta.

Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik pada saat inflasi energi atau ketidakpastian geopolitik yang kian memuncak. Hanya saja, pengelolaan portofolio disebut akan dilakukan secara selektif dan berbasis fundamental.

Sementara reksa dana campuran, strategi yang umumnya diterapkan adalah menjaga stabilitas portofolio. Artinya, kinerja reksa dana ini tidak diharapkan untuk menghindari risiko sepenuhnya, tetapi menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan pengendalian volatilitas.

”Dalam konteks ini, reksa dana campuran sering berperan sebagai shock absorber dalam portofolio investor dan tetap memiliki eksposur terhadap aset berisiko seperti saham, namun dengan porsi yang disesuaikan dengan kondisi pasar,” katanya.

Meskipun begitu, pendekatan tersebut dinilai lebih bersifat dinamis. Artinya, ketika volatilitas mulai mereda dan valuasi saham menjadi lebih menarik, penyesuaian portofolio terhadap aset berisiko dapat ditingkatkan kembali secara bertahap.

Sementara reksa dana pendapatan tetap (RDPT), pendekatan yang dilakukan cenderung konservatif dengan mempertahankan bias pada obligasi tenor pendek—menengah.

Tidak hanya obligasi pemerintah, eksposur terhadap obligasi korporasi dengan kualitas kredit yang baik juga disebut menjadi bagian penting dalam pengelolaan portofolio lantaran memberikan kupon yang lebih tinggi dengan durasi yang lebih rendah ketimbang SBN.

”Strategi ini bertujuan menjaga stabilitas nilai aktiva bersih sekaligus memberikan fleksibilitas pengelolaan portofolio di tengah potensi pergerakan yield yang masih fluktuatif,” katanya.

Genta menegaskan, dalam melakukan investasi terhadap obligasi korporasi, Sinarmas cenderung menekankan pada seleksi kredit yang ketat, termasuk dalam menilai kekuatan arus kas perusahaan, tingkat leverage, struktur jatuh tempo utang, hingga likuiditas perusahaan.

”Apabila pada suatu titik yield obligasi tenor panjang telah mencapai level yang dinilai menarik dan mulai terlihat indikasi stabilisasi pada faktor-faktor makro seperti nilai tukar dan likuiditas pasar, maka penambahan durasi dapat dilakukan secara bertahap untuk mengunci tingkat yield yang lebih optimal,” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ngebuburit Kreatif di Kedai Sombala
• 35 menit laluharianfajar
thumb
Prabowo: Perang Terjadi di Banyak Kawasan, Indonesia Tetap Non-Blok
• 25 menit laludisway.id
thumb
Dinkes Sulbar Intensifkan Surveilans Campak di Pasangkayu
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
BYD Seal Terbakar Hebat, Pihak Perusahaan Sebut Penyebabnya dari Power Bank Bukan Baterai Kendaraan
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Polisi: Belum Ada Pengajuan Penangguhan Tahanan Richard Lee
• 13 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.