Bisnis.com, JAKARTA — PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) membukukan rugi bersih sepanjang tahun 2025. TOBA mencetak rugi bersih sebesar US$162,26 juta atau setara Rp2,7 triliun (kurs Jisdor 31 Desember 2025 Rp16.720 per dolar AS).
Berdasarkan Laporan Keuangan 2025, TOBA membukukan pendapatan sebesar US$380,22 juta atau setara Rp6,35 triliun. Pendapatan ini turun 14,7% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar US$445,6 juta.
Direktur TBS Juli Oktarina mengatakan tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi TBS. Tahun lalu menjadi periode strategic repositioning peseroan ke segmen bisnis yang lebih bersih dan berkelanjutan.
"Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, untuk mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan TOBA, yaitu pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik, yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara,” kata Juli dalam keterangan resminya, Senin (9/3/2026).
TOBA mencatatkan kontribusi pendapatan sebesar US$155,4 juta dari pengelolaan limbah, yang merupakan 41% dari total pendapatan Perseroan. Manajemen TOBA dalam keterangan resminya menuturkan dengan komposisi bisnis yang semakin terdiversifikasi, eksposur terhadap volatilitas harga batu bara global pun semakin berkurang, sejalan dengan arah transformasi perseroan.
Kemudian segmen pertambangan dan perdagangan batu bara, TOBA membukukan pendapatan sebesar US$194,6 juta, setara dengan 51% dari total pendapatan perseroan, turun signifikan dibandingkan kontribusi 81% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut manajemen TOBA, penurunan proporsi ini mencerminkan arah strategis TBS untuk secara bertahap menurunkan eksposur terhadap batu bara sekaligus mempercepat pergeseran menuju portofolio yang lebih berkelanjutan.
Adapun TOBA membukukan rugi bersih sebesar US$162 juta atau setara Rp2,7 triliun, yang disebabkan oleh merosotnya harga batu bara dunia di sepanjang tahun 2025 dan kerugian non-kas dan tidak berulang, yang berasal dari dampak divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar US$97 juta sebagai bagian dari transformasi Perseroan ke sektor rendah karbon.
TBS memandang bahwa realisasi rugi akuntansi di tahap ini merupakan bagian dari proses transisi satu kali yang diperlukan untuk membuka potensi arus kas jangka yang lebih berkualitas serta aset yang dapat menghasilkan pendapatan yang lebih berkelanjutan.
TOBA juga mencatatkan EBITDA Disesuaikan positif sebesar US$47,2 juta, dengan saldo kas pada level US$102,3 juta atau meningkat 15% dibanding tahun 2024. Menurut manajemen, hal ini menegaskan bisnis inti perseroan terus menghasilkan nilai ekonomi nyata, sekaligus mencerminkan disiplin eksekusi di tengah perubahan komposisi portofolio.
Manajemen menuturkan tonggak strategis TOBA lainnya di tahun 2025 adalah penyelesaian akuisisi Sembcorp Environment, yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment. Menurut manajemen, akuisisi ini secara instan memperkuat posisi TBS sebagai salah satu pemimpin pangsa pasar dalam pengelolaan limbah di Singapura, sekaligus meningkatkan kapasitas aset TOBA untuk mendukung pertumbuhan pendapatan jangka panjang.
Manajemen TOBA juga menyampaikan sepanjang 2025 TOBA menata ulang portofolio secara menyeluruh sebagai bagian dari langkah “strategic repositioning” untuk memperkuat fondasi keuangan dan membangun struktur bisnis yang lebih resilien.
Menurutnya, langkah strategis ini menjadi semakin relevan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang mulai memberikan tekanan hebat pada pasar energi global. TBS memandang diversifikasi bisnis sebagai kunci resiliensi dan mitigasi risiko dalam menghadapi volatilitas pasar energi global.
Terkait kondisi di atas, Juli mengatakan strategi bisnis TOBA saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, dengan sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional.
“Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang,” tutur Juli.
Manajemen menyampaikan dengan fundamental yang tetap solid, EBITDA Disesuaikan yang positif, serta arah strategi regional yang semakin jelas, Juli optimistis langkah ini akan menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan. Optimisme ini diperkuat oleh progres peta jalan TBS2030 yang terus menunjukkan kemajuan.
Manajemen juga menuturkan telah berhasil menurunkan emisi karbon melalui divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya merepresentasikan sekitar 86% emisi portofolio pembangkit, atau sekitar 1,4 juta ton CO₂ per tahun berdasarkan profil emisi 2024.
Pada November 2025, Perseroan juga telah meluncurkan Climate Transition Plan (CTP), panduan yang lebih komprehensif mengenai dekarbonisasi operasional dan portofolio perusahaan.




