JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), Mochamad Purnomosidi mengungkapkan soal potensi kenaikan tarif kereta rel listrik (KRL). Namun, saat ini rencana kenaikan tarif KRL masih dikaji secara mendalam.
Purnomo bilang, rencana kenaikan tarif dipertimbangkan untuk menekan subsidi yang saat ini ditanggung pemerintah.
"Niatnya gini lho, niatnya itu bagaimana subsidi itu bisa kami tekan. Kasihan pemerintah lah, kan gitu. Nah, kami lagi cari-cari berbagai macam solusi. Termasuk ada kereta (KRL) prioritas," ujar Purnomo di KCI Hall, Juanda, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).
Baca juga: Ingin Tekan Subsidi, KCI Pertimbangkan KRL Prioritas dan Kenaikan Tarif
"(Jika tarif naik) mungkin cuma Rp 500," lanjutnya.
Sehingga harga tiket KRL nantinya menjadi Rp 3.500 dari harga saat ini yang sebesar Rp 3.000.
Meski demikian, Purnomo menegaskan kenaikan tarif KRL tidak akan diputuskan secara terburu-buru. Selain masih dikaji, pihaknya juga harus meminta izin kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
"Enggak mungkin kami selesaikan sendiri. Pasti izinnya dari kementerian (Perhubungan), karena ini kereta subsidi kan," tutur Purnomo.
KCI menurutnya juga mempertimbangkan agar subsidi KRL ke depannya lebih tepat sasaran.
Sebagai informasi, saat ini pemerintah memberikan subsidi agar penumpang KRL bisa menikmati tarif murah Rp 3.000 untuk 25 kilometer pertama. Kemudian tarifnya sebesar Rp 1.000 untuk 10 km berikutnya.
Purnomo mengungkapkan wacana KRL prioritas. Wacana itu menurutnya juga jadi alternatif solusi untuk menekan beban anggaran subsidi tarif KRL.
"Kami kaji dulu. Tapi yang jelas ada niat untuk mengurangi subsidi. Salah satunya dengan KRL prioritas," ujar Purnomo.
Baca juga: Uji Coba 12 Gerbong KRL Jalur Green Line Terkendala Daya Listrik
Meski demikian menurut Purnomo rencana menaikkan tarif maupun mengadakan KRL prioritas bukan merupakan pilihan yang final untuk mengatasi beban subsidi tarif KRL. KCI masih membuka peluang alternatif solusi lainnya.
"Bisa juga nanti yang KRL prioritas enggak jadi, tapi yang (KRL) ekonominya kita naikkan tarifnya. Dan juga masih ada alternatif lainnya," tutur Purnomo.
Ia menyebutkan, waktu tempuh KRL prioritas akan lebih cepat dibandingkan KRL biasa.
Selain itu, KRL prioritas juga tidak berhenti di setiap stasiun. Untuk tarif, KRL tersebut akan lebih mahal jika dibandingkan KRL biasa.
"Jadi tempat di mana yang ramai saja diberhentikan. Itu rencananya lagi kita godok lah ya. Niatnya bagaimana subsidi bisa kita tekan," kata Purnomo.
"Kayak dulu kan ada Ekspres. Untuk menyusul KA ekonomi. Nah, ini kita usahakan tidak menyusul, tapi relatif lebih cepat," tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




