Blokir Konten oleh Komdigi Bisa Jadi Bumerang, Anak-Anak Bisa Beralih ke VPN?

disway.id
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID-– Kebijakan pemerintah dalam membatasi ruang gerak konten negatif di jagat maya ibarat pisau bermata dua.

Terbitnya Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permen Komdigi) Nomor 9 Tahun 2026 memang bertujuan mulia untuk memayungi anak-anak dari paparan konten berbahaya.

BACA JUGA:BNI Bawa 10 UMKM Binaan Tampil di Dhawafest Pesona 2026

BACA JUGA:Satu Jenazah Ditemukan Lagi di Longsor TPST Bantar Gebang, Total Korban Meninggal Enam Orang

Namun, di balik itu, tersimpan risiko besar yang justru bisa menjadi bumerang bagi keamanan digital anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengingatkan bahwa sekadar memblokir atau membatasi akses platform tertentu bukanlah solusi tunggal yang ajaib.

Tanpa edukasi yang kuat, langkah represif digital ini dikhawatirkan bakal memicu rasa penasaran anak untuk mencari pintu belakang.

"Perlindungan anak tidak cukup hanya melalui pembatasan akses. Ada potensi anak-anak justru mencari cara lain yang tidak aman, misalnya menggunakan VPN atau jalur-jalur yang tidak terpantau," ujar Arifah dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip Senin 9 Maret 2026.

BACA JUGA:Dari 1989 TPST Bantargebang Gak Beres-Beres, 80 Juta Gunung Sampah Akhirnya Makan Korban

BACA JUGA:Haris Azhar Kecewa atas Penahanan Lee Kah Hin, Sebut Ada Praktik 'Perang Dagang'

Penggunaan Virtual Private Network (VPN) atau proxy oleh anak-anak demi menembus blokir pemerintah justru menempatkan mereka pada risiko yang jauh lebih mengerikan.

Jalur-jalur ini seringkali tidak memiliki filter keamanan, sehingga anak justru lebih rentan terpapar eksploitasi, perundungan siber (cyber bullying), hingga pencurian data pribadi.

Menurut Arifah, regulasi yang lahir sebagai aturan pelaksana PP Nomor 17 Tahun 2025 ini harus dipandang sebagai fondasi, bukan tembok akhir.

Ia menekankan bahwa kehadiran negara melalui Komdigi memang wajib untuk memaksa penyelenggara sistem elektronik menyediakan layanan ramah anak, namun peran keluarga tetap menjadi benteng utama.

BACA JUGA:Era Age of Noise: Mengapa Opini Publik di Media Sosial Terbentuk Sangat Cepat?

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menuju Lebaran, BNPB Bangun 1.771 Huntara Penyintas Banjir di Aceh Tamiang
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Dulu Digandrungi Artis, Kini Sepi Pembeli: Masih Adakah Masa Depan Pasar Ular?
• 43 menit lalukompas.com
thumb
Pixar Dikabarkan Mengembangkan Film Ketiga Monsters, Inc., Kelanjutan Petualangan Mike dan Sully Mulai Disiapkan
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Fans Garuda Berbondong-bondong Sambut Elkan Baggott, Ini Garuda Calling John Perdana Herdman untuk FIFA Series 2026
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
BNI Tebar Dividen Rp13 Triliun, RUPST Juga Setujui Buyback Saham Rp905 Miliar
• 10 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.